Oke...part 4 pun hadir setelah saya menulis part 1, part 2 dan part 3 :)
Selamat membaca..
“ Moshi-moshi.”
“ Genji san, bagaimana Hana san?”
“ Masih belum sadar, kau apa kabar Tamada san?”
“ Aku baik, Yumi san juga baik. Lalu kau?”
“ Bagaimana aku bisa sakit kalau aku sedang berada di dekat gadis itu?” terdengar tawa kecil Tamada mendengar hal itu.
“ Tapi aku tahu, hatimu pasti sakit melihat Adhi san dengan Hana san. Apa kau belum juga jujur pada Hana san tentang perasaanmu?”
“ Bagaimana aku jujur, kau tahu Hana san belum juga sadar.”
“ Lalu bagaimana kalau Hana san tidak sadar?”
“ Kau jangan berbicara sembarangan Tamada san!” Genji menjadi kesal.
“ Aku hanya berbicara tentang kemungkinan terburuk. Kau tahu Genji san, tiada yang tahu kapan Hana san kau dan aku akan mati,”
“ Lalu aku harus bagaimana ?”
“ Berkatalah jujur padanya sebelum kau menyesal.”
“ Tapi, apa dia bisa mendengar ucapanku?”
“ Entahah, mungkin saja dia mendengarmu. Kenapa tidak mencobanya?”
“ Baiklah Tamada san, aku akan mencobanya setelah aku siap.”
“ Sekarang!”
“ Tamada san….” Genji san yang sedang menerima telephone di dekat taman, lagi-lagi melihat sikap aneh dari Adhi dan ibu Hana. Bagaimana mungkin mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
“ Tamada san, sudah dulu ya. Aku berjanjipadamu akan sesegera mungkin jujur kepada Hana san. Sekarang aku ada urusan penting.”
“ Urusan penting apa kau ini?”
“ Jaa mata.”
“ Tunggu Genji san..tung..” Dengan cepat Genji memutuskan telephone dan segera membuntuti ibu Hana dan Adhi diam-diam. Ketika itu Genji melihat mereka duduk di sebuah bangku taman. Dia terus mengamati kedua orang itu. Jantungnya hamper copot, ketika tiba-tiba Adhi memeluk ibu Hana, dan mencium bibirnya setelah melepas pelukan. Dia mengusap-usap mata dan menampar pipinya sendiri, berharap apa yang dilihatnya bukanlah kenyataan. Namun hal itu nyata adanya. Ternyata semua kecurigaan itu bukanlah suatu kesalahan.
*Kokoro no tomo*
“ Hana san, bagaimana kabarmu hari ini ?” Genji mengusap-usap kepala Hana. “ Hana san,” Genji melanjutkan kata-katanya. “Tadi Tamada san menelephoneku. Dia menanyakan kabarku dan kabarmu. Kau tahu, kalau aku dan dia tidak lagi berselisih? Pasti kau terkejut dengan berita ini kan? Kami menjadi lebih hangat berkat jasa seorang gadis. Apa kau ingin tahu siapa dia? Tentu aku tidak akan memberitahumu sekarang, haha..”
Genji san sedikit tertawa dan melanjutkan, “Tapi ketika aku sedang bercanda dengan Tamada san di telephone, aku melihat ibumu dan Adhi san bersama. Apa kau ingin tahu sesuatu yang ku lihat? Kau tahu kan kalau aku ini tidak pernah berbohong padamu. Kau harus tahu, Adhi san bukanlah lelaki yang baik untukmu. Aku berbicara begini bukan tanpa alasan, tapi karena aku sudah melihatnya sendiri kebusukan Adhi san itu. Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan kekasihmu, tetapi aku melihat Adhi san memeluk dan mencium ibumu tadi siang.” Genji san berjaga-jaga takut terjadi sesuatu pada Hana setelah mendengar berita itu darinya. Namun tak ada satupun gerakan yang timbul ketika Hana mendengar berita itu. Kemudian Genji melanjutkan, “Apa kau tahu sebab aku selalu menggoda gadis-gadis ketika aku bersamamu? Apa kau tahu, kalau aku selalu begitu agar kau cemburu, tapi kenapa Hana san? Kenapa kau tidak cemburu? Kenapa kau tidak pernah melihatku Hana san ?kau selalu melihatku sebagai sahabat, tapi kenapa kau tidak pernah melihatku sebagai seorang lelaki?” Genji menggenggam erat tangan Hana. “Apa kau tahu Hana san? Kau membuat hidupku lebih berwarna sejak kedatanganmu ke apartemen 22. Kau adalah gadis unik yang baru ku temui. Aku ingat, kau sering memakiku dengan kalimat bahasa Indonesia yang tidak ku mengerti artinya ketika kau kesal padaku. Kau juga yang selalu mengompres kepalaku ketika aku pulang kehujanan dan demam. Mungkin semua ini kedengaran konyol bagimu. Tapi Hana san, aku mencintaimu, entah sejak kapan. Yang aku tau, aku selalu bahagia dan nyaman bersamamu. Dan aku telah bener-benar menyadari perasaan ini sejak kau bercerita tentang Adhi san. Aku begitu kesal ketika kau membanggakannya di depanku, ketika kau bercerita tentang kenanganmu dengannya di SMA.sekarang ka tahu kan, kenapa aku selalu mengganti topik pembicaaraan ketika kau mulai menyebut nama Adhi san?” Genji menengok kanan kiri dan luar ruangan. “ Kenapa kau tak bereaksi apapun Hana san? Mengapa kau tidak menangis atau tersenyum? Kau juga tidak bergerak ketika aku bercerita. Jadi, apa kau tidak mendengar ucapanku selama ini?” Genji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Berarti percuma saja aku bercerita panjang lebar padamu, percuma aku menyatakan perasaanku, karena kau tidak bisa mendengarku kan?”Di dekatinya wajah Hana, lalu dikecuplah bibir Hana pelan. Kemudian dia berbisik di telinga Hana, “ Selamat Hana san, kau beruntung karena kau orang pertama yang berhasil mencium lelaki setampan Tamao Genji.”
*Kokoro no tomo*
Genji merasakan sesuatu bergerak-gerak di tangannya. Dia pun terjaga dan menyaksikan tangan Hana yang sedang mengusap-usap tangannya. “ Hana san, kau sudah….” Senyum lebar tercipta di wajah Genji. “ Kau siapa? Kenapa ada disini? Kenapa menemaniku? Apa kau sukarelawan?” Genji bingung sendiri dengan perkataan gadis di depannya itu.
“ Hana san, apa kau..?”
“ Kau tahu namaku? “
“ ya, aku..” Genji semakin bingung harus berkata apa pada gadis itu, mengapa gadis itu tidak mengenalinya? Tanpa banyak bicara Genji berlari keluar ruangan dan mencari dokter. Setelah itu dia membiarkan dokter memeriksanya sementara dia menunggu di luar. Dia begitu senang melihat Hana siuman. Tapi kenapa gadis itu tidak mengenalinya? Ucapnya dalam hati.
“ Hana sudah siuman bu!” tak lama lelaki itu pun memutuskan telephonenya. Wajahnya terlihat cemas bercampur senang.
Lima menit kemudian, ibu Hana datang bersama Adhi. Mereka semua menemui Genji kemudian bersama-sama menengok keadaan Hana.
“ Ibu !” terdengar teriakan kecil ketika ibu Hana membuka pintu kamar rawat Hana.
“ oh Hana! Kau sudah siuman rupanya?”
“ memangnya aku kenapa bu ?”
“ Kau mengalami kecelakaan,” tabrak Adhi.
“ oh, Adhi sayangku! Kemana saja kau ini? Kenapa tidak disampingku ketika aku bangun? Jangan-jangan kau punya wanita lain yah?” senyum Hana mengembang. Seketika ibu Hana, Adhi, dan Genji diam. Mereka bingung denga apa yang terjadi pada Hana. “ oh iya bu, laki-laki di sebelah ibu itu siapa ? sepertinya bukan orang Indonesia.” Mendadak semua orang menoleh kea rah Genji. Mereka semakin binging dengan sesuatu yang terjadi pada Hana. Apa Hana tidak ingat kejadian yang dilihatnya sebelum kecelakaan? Bukankah Hana sudah tidak mau lagi melihatnya? Pikir Adhi dalam Hati. Dokter yang melihat kejadian itu buru-buru menjelaskan.
“ Saudara Hana mengalami hilang ingatan sebagian.” Ketika dokter berbicara demikian, serentak Genji, Adhi dan ibu Hana menoleh kearah dokter. Mereka belum sepenuhnya percaya telah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut dokter. “ Dia kehilangan ingatannya 5 tahun terakhir,” tambah dokter.
“ Siapa yang hilang ingatan? Aku baik-baik saja. Aku juga masih ingat dua hari lalu ulang tahun ibu kan ?” Semua orang kembali kaget dan menatap gadis itu.
“ Ulang tahun ibu masih lima bulan lagi sayang.”
“ Bulan ini bulan Maret tahun 2006 kan ? ibu tahu sebentar lagi aku ujian.”
“ ini bulan November 2011 sayang!”
“ apa? Ibu jangan bohong, mana mungkin? Lalu, bila ini tahun 2011 apa saja yang ku kerjakan selama ini? Apa aku sudah bertunangan dengan Adhi? Atau sudah menikah dengannya?”
“ setelah lulus SMA kau mendapat beasiswa dan kuliah di japan. Dan laki-laki yang kau tanyakan tadi itu adalah temanmu di japan. Dia ada disini sejak sebulan lalu untuk menjengukmu. Namanya adalah Tamao Genji.”
“ benarkah ?” Hana menatap dalam laki-laki yang tidak dikenalnya itu. “ apa kau temanku? Wah, lama juga kau menemaniku disini. Terima kasih ya Genji!”
“ sama-sama Hana san.”
*Kokoro no tomo*
**Maria Marisca Sutikno**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar