Senin, 01 Oktober 2012

Kokoro No Tomo Part 5

Fiuh...siapa yang udah nunggu part 5? ayo ngaku..hehehe
Ini jawaban dari rasa penasaran kalian :)
Dan buat yang belum sempat menyelesaikan part sebelumnya...ini linknya :)
“ wah, kau ini lucu sekali ternyata orangnya. Aku tidak pernah dibuat tertawa sampai geli begini oleh Adhi. Dia orangnya romantis. Jadi Genji, kamu harus sering-sering menghiburku seperti ini ya.”
“ tentu saja Hana san, apa kau senang?”
“ tentu saja aku senang. Walaupun aku tidak ingat denganmu, tapi aku merasa nyaman bersamamu. Mungkin itu yang membuat kita berteman baik. Benarkan?”
“ tentu saja Hana san, kau selalu bilang tidak bisa jauh dariku sewaktu di japan.”

“ benarkah? Percaya diri sekali ya?”
“ tentu. Itu juga kata-kata yang sering kau ucapkan padaku.”
“ benarkah? Aku jadi penasaran bagaimana persahabatan kita dulu.”
“ sewaktu di Japan, aku dan kau adalah tetangg di sebuah apartemen di Tokyo. Kita sering saling ejek tapi juga tidak bisa dipisahkan. Kita juga berteman baik dengan Yume san dan Tamada san. Aku dan Tamada sering sekali berselisih. Sementara kau dan Yume san sudah seperti kakak adik. Tamada san dan Yume san berpacaran. Tapi kau tidak mau jadi pacarku.”
“ hah? Jadi kau menyukaiku?”
“ tidak Hana san, kata-kata terakhirku tadi bohong.”
“ dasar, ku kira kau menyukaiku.”
“ jangan harap Hana san. Aku ini sangat terkenal di kalangan remaja dekat apartemen kita. Mana mungkin aku melewatkan mereka hanya gara-gara cewe bawel sepertimu?”
“ kau ini sungguh menyebalkan.”
“ hahahahaha….”
Hana dan Genji saling cubit satu sama lain. Ketika mereka sedang asyik bercanda, terdengar suara pintu terbuka. Ternyata yang masuk adalah Adhi. Kemudian mereka pun langsung diam, karena ekspresi wajah Adhi telah jelas menunjukan kecemburuan.
“ hey sayang, sudah pulang kuliah? Ayo kemari! ”
“ sudah. Tadi aku mampir ke warung bubur ayam kesukaanmu. Ini kubawakan untukmu.”
“ aku sudah makan bubur ayam yang sama barusan. Genji membelikannya untukku.”
“ tapi aku sudah membelikannya, jadi kau harus makan.”
“ tapi sayang….”
“ kalau Hana san tidak mau makan jangan dipaksa! Dia kan sedah bilang kalau dia sudah kenyang, kenapa kau malah memaksanya? Sini biar aku aja yang makan.” Genji merebut keresek berisi bubur ayam dan segera lari keluar kamar membawanya.
“ lihat temanmu itu? Sungguh tidak sopan.”
“ kenapa kau bicara begitu tentang Genji? Dia kan lucu. Dia juga Cuma bercanda.”
“ kenapa kau sekarang sangat senang membelanya? Ada apa denganmu? Apa kau menyukainya?”
“ kenapa kau malah menuduhku? Kenapa sih kau ini?”
“ aku gak suka kamu deket-deket sama orang jepang itu.”
“ dia itu temanku, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Selama ini aku setia padamu bukan?”
“ iya, tapi..”
“ aku sudah kembali…” Genji datang dan masuk ke kamar rawat tanpa ketok pintu. Wajah Adhi terlihat kesal melihat lelaki itu muncul.
“ kau cepat sekali makannya?” Hana menengok kea rah Genji sambil tersenyum.
“ bubur itu aku berikan pada petugas kebersihan.”
“ apa?” Adhi melotot ke arah Genji.
“ iya, aku berikan pada petugas kebersihan. Dia lebih membutuhkanya dari pada aku.”
“ wah, Genji mulia sekali. Kapan-kapan kita beli makanan yang banyak terus dibagikan ke anak jalanan okay?” Hana kembali memuji Genji. Hal itu membuat Adhi semakin cemburu.
“ ngapain kamu ajak dia? Kamu pergi sama aku ajah ya? Kalo udah sembuh kita bagikan makanan bareng, okay?” Adhi tidak membiarkan sedikitpun kesempatan Genji bersama Hana.
“ bukannya kuliahmu lagi padat-padatnya? Adhi san, kau tidak perlu repot. Aku ini kan disini tidak ada kerjaan. Kau fokus saja pada kuliahmu. Biar aku saja yang menemani Hana sekalian aku menghafal Jakarta.” Tabrak Genji.
“ bener tuh sayang. Kamu kan harus selesaikan skripsi kamu. Biar aku ditemani Genji saja ya? Lagian setahuku kamu paling anti sama panas, apalagi anak jalanan.”
“ okay, kamu boleh pergi sama Genji.”
Semakin hari Hara dan Genji semakin dekat. Mereka semakin akrab dan semakin kompak. Tanpa sadar sesekali Hara manja kepada lelaki itu. Genji dengan senang hati memanjakan gadis pujaannya itu. Dia tahu betul sifat gadis itu selain bawel, dia juga manja. Sejak itu Hana lebih sering menghabiskan waktu dengan Genji ketimbang Adhi. Hal itu tentu membuat Adhi semakin cemburu terhadap Genji. Adhi selalu melarang Hana pergi bersama Genji, namun Hana nekat pergi bersama pria itu karena Hana  merasa senang bersama Genji.                                                    
                                                        *Kokoro no tomo*

“ sayang, kamu merasa tidak kalau Hana semakin dekat dengan orang Japan itu?”
“ iya, memangnya kenapa? Apa kau cemburu? Jadi kau masih mencintai anakku? Katanya dihatimu saat ini cuma ada aku? Jadi kau membohongiku?”
“ tidak sayangku, aku hanya khawatir laki-laki itu tidak baik untuk Hana.”
“ tapi jika Hana mencintai Genji, bukannya jaan kita untuk menikah akan lebih mudah?”
“ iya, tapi bagaimana caranya kita menjelaskan hubungan kita kepada Hana? Kita beruntung karena Hana tidak mengingat kejadian ketika dia pulang dari Japan.”
“ aku yakin ada jalan untuk membicarakannya.”
“ iya, aku harap begitu. Ngomong ngomong Gadis itu ada dimana sekarang?”
“ dia sedang jalan-jalan dengan Genji.”
“ kenapa tidak kau larang?”
“ kenapa mesti aku larang ?”
“ tidak. Tidak apa-apa sayang.”
                                                        *Kokoro no tomo*

“ moshi-moshi,”
“ Genji san, bagaimana kabarmu?”
“ Baik Yume san. Kau menelphone apa Tamada san tidak cemburu?”
“ Tidak Genji san, tenang saja. Tamada san ada disebelahku, apa kau mau bicara?”
“ oh tidak terima kasih.”
“ bagaimana dengan Hana san, apa dia sudah sadar?”
“ Sudah Yume san, tapi dia hilang ingatan sebelah sehingga dia tidak mengingat sebagian dari ingatannya, termasuk kita.”
“ apa!!!”
“ Yume san, kau tidak perlu berteriak. Apa kau tidak kasihan pada telingaku?”
“ Maaf Genji san. Jadi, dia tidak mengenalimu ketika sadar?”
“ Tidak Yume san. Kata dokter mungkin itu disebabkan ingatan yang hilang itu sangat menyakitkan bagi Hana san.”
“ jadi apa baginya bersama kita itu menyakitkan?”
“ aku tidak tahu Yume san, kau tahu aku sangat sedih memikirkan itu.”
“ Bersabarlah Genji san! Ngomong-ngomong kau akan pulang kapan?”
“ Sabtu ini aku akan berangkat dari Indonesia.”
“ Lalu Hana san?”
“ Entahlah, mungkin dia akan segera bertunangan dengan lelaki bejat itu.”
“ Maksudmu Adhi san? Ada apa dengannya? Apa dia menyakiti Hana san?”
“ Aku tidak bisa menceritakannya ditelephone Yume san. Akan kuceritakan padamu semua ketika aku tiba di Tokyo.”
“ Aku tunggu Genji san. Sudah dulu ya, jaa mata.”
“ jaa mata.”
Genji menutup telephonenya. Dia menghembuskan nafasnya dengan sengit. Dia selalu kesal ketika mengingat apa yang dia lihat tentang Adhi dan ibu Hana. Dalam hati dia mengamuk, dan menahan diri untuk berteriak dan memaki lelaki itu. Yang dipikirkannya hanya gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu bersedih jika mengetahui kenyataan yang sesungguhnya. Dia juga tidak ingin dituduh mengarang cerita karena dia tidak punya bukti perselingkuhan Adhi dan ibu Hana. Dia harus menahan luka hatinya melihat Hana bersama Adhi. Dia selalu menyembunyikan sakit hatinya semata-mata hanya ingin melihat gadis itu bahagia dan selalu tersenyum.
“ Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau mau pulang ke Tokyo? Kau jahat sekali Genji!”
Genji kaget bukan main. Jantungnya hampir copot ketika dia membalikan badan dan melihat gadis pujaannya berada tepat di depannya. Dia tidak mendengar langkah Hana ketika mendekatinya.
“ Sejak kapan Hana berada di belakangku? Apa saja yang dia dengar dari pembicaraanku di telephone bersama Yume san? Bagaimana kalau Hana mendengar perkataanku mengenai Adhi san?” ucap Genji dalam hati.
“ Kenapa kau diam? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku Genji? Kenapa kau tidak memberitahuku akan pulang?”
“ Ini baru hari kamis pagi Hana san. Aku berniat memberitahumu besok.”
“ Kau tidak boleh mendadak begitu!” Wajah Hana manyun. Hana terlihat sangat kesal dan Genji bisa melihat isi hati Hana dari ekspresi wajah gadis itu.
“ Ku mohon  kau jangan cemberut begitu Hana.” Genji menyentuh pipi kanan gadis itu. Seulas senyum tercipta di pipi Hana.
“  Kau sudah membeli tiket?”
“ Belum. Aku akan membelinya besok.”
“ Siang ini saja aku temani beli tiket. Okay?”
“ Baiklah, jam sepuluh bagaimana ?”
“ siap bos!”
                                                        *Kokoro no tomo*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar