Akhirnya sudah sampai part 6...
Tenang :) hampir the end kok :)
Yang belum baca Part 1, Part 2, Part 3, Part 4 dan Part 5 silahkan diklik linknya :)
“ Bagaimana? Sudah dapat?”
“ Sudah, tapi aku berangkat besok pukul 09.15, apa kau bisa mengantarku ke bandara?”
“ Kenapa besok? Kau bilang …..” Terdengar alunan lagu Sayonara ga hajimaru milik No regret life, sesegeralah Hana membuka tasnya kemudian mengambil telephone dan meletakkannya di telinga.
“ moshi-moshi…” Hana berlari menjauhi Genji. Lelaki itu melihat Hana dengan wajah heran. “ Dia tadi bilang moshi-moshi? Dasar bodoh! Kenapa aku harus pulang ke Tokyo disaat ingatan Hana mulai kembali? Gadis itu pasti tidak sadar dengan perkataannya yang reflex tadi itu.” Genji berbicara sendiri dalam hati. Dari kejauhan dia menatap gadis itu. Gadis itu tertawa saat berbicara di telephone dan sesekali melambaikan tangan ke arah Genji. Genji membalasnya dengan senyuman. Genji tidak ingin meninggalkan Hana bersama orang-orang yang yang mengkhianati gadis itu, namun dia juga tidak bisa selamanya di Indonesia , dia harus kembali ke Japan.
“ Maaf ya aku tadi lama sekai mengangkat telephonenya. Tadi telephone dari Adhi.”
“ oh, kenapa? Dia menyuruhmu pulang? Atau dia mengajakmu berkencan sekarang?”
“ Tidak, dia megajakku makan siang besok jam 10.00 pagi. Hari ini kita jalan yuk? Kau harus bersamaku seharian sebelum kau meninggalkanku.”
“ Aku tidak akan meninggalkanmu Hana san. Kita pasti akan bertemu lagi. Kau juga harus merampungkan study mu di Japan.”
“ Janji? Jangan pernah tinggalkan aku Genji!”
“ Dimanapun kau berada, aku ada bersamamu.”
“ Kok bisa?”
“ Kan aku sudah permanent dihatimu, hahahahahahaha…..”
“ Dasar, kepedean!”
“ Apa itu kepedean?”
“ Terlalu percaya diri. “
“ Kalau tidak percaya diri, bukan Genji namanya.”
*Kokoro no tomo*
“ Apa kau sudah pamitan dengan ibuku?”
“ Tentu Hana san, masa tidak pamitan dengan calon mertua? Hahahahahah….”
“ Dasar kau ini!”
“ Kau jaga diri selama aku tidak ada ya. Pesawatku sepuluh menit lagi berangkat.”
“ Iya cowo bawel! Lama-lama kau lebih bawel dari pada aku.”
“ Kau kan harus nurut sama calon suamimu ini.”
“ Kau sungguh berharap Genji, kau tahu kan aku ini sudah punya Adhi.”
“ Iya aku tahu, berbahagialah bersamanya.”
“ Pastinya. Kau tahu? Aku punya firasat Adhi akan mengajakku bertunangan saat kami makan siang bersama nanti, atau bahkan dia akan melamarku? Wah, aku sudah tidak sabar.”
“ Selamat Hana san, kau jangan lupa mengundangku ketika kau hendak menikah.”
“ Aku tidak akan melupakanmu Genji!” Hana memeluk erat laki-laki itu. Genji membalas pelukan gadis itu. Genji tidak ingin melepaskannya, dia sungguh ingin tetap bersama Hana. Beberapa saat kemudian Genji melepaskan pelukan Hana.
“ Aku arus masuk ke dalam sekarang. Lima menit lagi pesawatku akan berangkat, aku harus mengurusi barang-barang bawaanku.”
“ Sampaikan salamku untuk Tamada dan Yume.”
“ Pasti, Hana san.”
Genji berjalan perlahan meninggalkan Hana. Pandangan gadis itu tak lari dari laki-laki tampan bermata sipit itu, hingga jejak lelaki itu lenyap dari penglihatannya. Kemudian gadis itu pun pergi dan bersiap menemui Adhi untuk makan siang bersama.
Di dalam pesawat genji tidak bisa tidur. Dalam fikirannya terus saja terngiang nama Hana. Terselip penyesalan karena dia tidak berani untuk menyatakan cinta kepada gadis itu. Tapi dia tidak ingin merusak hubungan Hana dengan Adhi. Dia takut gadis itu akan marah ketika dia menyatakan cinta. Dia takut sikap Hana berubah dan perlahan menjauhinya. Yang dia inginkan hanyalah tetap bersama gadis itu, melihatnya tersenyum gembira walau batinnya menahan sakit. Dia akan terus kuat karena ketulusannya pada Hana. Daia akan terus menjaga gadis itu, walau hanya sebagai sahabat. Dia sudah cukup bahagia berada disamping Hana.
*Kokoro no tomo*
“ Maaf, aku terlambat lima belas menit. Aku baru mengantar Genji ke bandara.”
“ Tidak apa-apa sayang. Jalanan macet, jadi aku baru sampai lima menit yang lalu. Aku permisi ke toilet dulu ya,”
“ okay sayang, jangan lama-lama.”
Hana merasa sedikit bosan berada di restoran itu. Restoran itu terlalu mewah dan sepi. Adhi memang selalu membawa Hana ke restoran itu, karena Adhi tahu Hana sangat suka hal-hal romantis. Tapi Hana merasa bosan, dan tiba-tiba mengingat Genji yang sering makan bersamanya di pinggir jalan akhir-akhir ini. Dia merasa kangen dengan laki-laki itu.
“ Halo? Ibu kesini ya? Makan bareng, di restoran Miracle’. Okay aku tunggu bu.”
Lima menit kemudian, Adhi kembali dari toilet. Ketika Adhi baru saja duduk, rupanya pelayan menikuti membawa pesanan. Rupanya, Adhi sudah menyiapkan semuanya untuk Hana.
“ Aku ingin bubur ayam, atau gado-gado.”
“ Yang benar saja, aku sudah membawamu ke tempat ini. Bukannya kau sangat suka tempat ini? Aku sudah memesankan semua makanan favoritmu di restoran ini, sekarang kau malah mau minta bubur ayam. Sekarang kau makan saja, dan jangan banyak alasan.”
Tanpa bicara Hana memakan makanan di hadapannya. Hatinya merasa kesal karena sikap Adhi. Dia dengan cepat melahap makanan dihadapannya. Dia sengaja begitu karena dia kesal dengan perlakuan pacarnya itu.
“ Sejak kapan kau jadi rakus sayang? Untung aku booking meja yang sepi, kalau sampai orang lain lihat kau sungguh mencoreng namuku.”
“ Kenapa sih kau ini, begini salah, begitu salah, apa kau tidak pernah puas menjadikanku seperti bonekamu selama bertahun-tahun?”
“ Kenapa kau menjadi pemberontak seperti ini ? Siapa yang mengajarimu ? Apa karena lelaki Japan itu?”
“ Selama ini kau menyuruhku selalu menurut dan menurut seperti boneka, apa kau tidak pernah sedikitpun memikirkan kebebasanku? Apa sebenarnya kau tidak mencintaiku? Kau hanya terobsesi padaku?”
“ Aku mencintaimu Hana. Aku sungguh mencintaimu.”
“ Buktikan kalau kau memang mencintaiku!”
Adhi keluar dari bangkunya dan mendekati Hana. Kemudian dia berlutut dihadapan gadis itu. Hana terlihat sangat kaget dengan apa yang baru ia lihat. Belum sekalipun dia melihat Adhi berlutut dan mengabaikan gengsinya.
“ Selama bertahun-tahun aku mencintaimu, sejak kita bersama di SMA hingga kini, aku tidak pernah kurang ajar padamu. Aku belum pernah sekalipun menciummu dan aku selalu menjaga kesucianmu. Kau tahu itu? Semua itu kulakukan karena aku mencintaimu Hana.”
“ Apa?”
Adhi mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari sakunya, lalu dibukalah kotak itu. Hana terkesima melihat sebuah cincin ada di tangan Adhi.
“ Aku sungguh-sungguh mencintaimu Hana, menikahlah denganku!”
Byyyuuuurrrrrr. Segelas air ditumpahkan ke wajah Adhi.
“ Kau bilang kau mencintaiku, dan sudah tidak mencintai anakku. Kau sudah kubeikan mobil baru, juga sudah tidur denganku. Sekarang kau berani melamar anakku diam diam.”
Wajah Adhi berubah pucat. Dia begitu kaget kenapa ibu Hana bisa tahu Adhi dan Hana sedang ada di restoran itu. Lalu Adhi menoleh ke arah Hana yang juga terlihat sangat kaget. Adhi bingung dengan keadaan itu. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Hana dan bagaimana dia harus meredam emosi ibu Hana agar tidak membeberkan semua yang telah mereka lakukan bersama.
Prok prok prok. Terdengar suara tepuk tangan yang tidak lain berasal dari arah Hana.
“ Akhirnya kalian mengakui semuanya. Hebat!”
“ Hana?” Ibu Hana dan Adhi spontan menengok kearah Hana.
“ Kalian tahu, betapa sakit hatinya aku ketika melhat kalian berada di ranjang yang sama ketika aku baru pulang dari Japan?”
“ Nak, kau ini…”
“ Iya bu, aku ingat semua. Dan selama ini aku hanya berpura-pura hilang ingatan. Aku kecewa dengan ibu yang tega mengkhianati anaknya sendiri. Dan aku juga kecewa dengan lelaki bejat dihapanku ini.”
“ Sayang, kau….” Adhi berusaha menjelaskan pada Hana.
“ Jangan memanggilku sayang lagi! Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa! Terserah kau mau menikah dengan siapa saja asal jangan dengan ibuku.” Hana menoleh ke ibunya,” Dan kalau ibu berani menikah dengan laki-laki bejat ini, aku tidak akan mau lagi bertemu dengan ibu!”
“ Maafkan ibu nak, ibu mohon jangan tinggalkan ibu.”
“ Aku melarang ibu menikah dengan Adhi bukan karena aku pernah mencintainya, tapi karena aku tidak ingin ibku menikah dengan laki-laki bejat seperti dia. Ibu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik ketimbang dia!”
“ Tapi nak,”
“ Pilih dia atau anakmu bu?!”
Ibu Hana diam beberapa saat. Adhi tidak mampu membela diri karena posisinya sudah terjepit. Yang ada dihatinya hanyalah penyesalan. Kebangkrutan keluarga Adhi membuatnya harus tega mengkhianati gadis yang dicintanya demi materi. Adhi tidak pernah mencintai ibu Hana, dia hanya berusaha untuk memoroti calon mertuanya itu. Adhi tidak pernah bercerita pada Hana tentang ekonomi keluarganya karena dia tidak ingin membuat pacarnya khawatir dan tidak konsen belajar di Japan. Tapi semua penyesalan itu tidak ada artinya, karena dia mulai sadar, semua yang ada di genggamannya akan segere sirna.
“ Anakku lebih berharga dari apapun.”
*Kokoro no tomo*
**Maria Marisca Sutikno**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar