Selasa, 16 Oktober 2012

Kokoro No Tomo Part 7

Ini dia...part terakhir...
pasti udah nggak sabar kan buat baca :)
Please welcome... part 7 :)
Genji  tenggelam dalam lamunannya. Pertandingan Barcelona melawan Real Madrid pun tidak mampu mengusir pikirannya tentang Hana. Dia terus membayangkan masa-masa dia baru pertama bertemu gadis itu. Ketika gadis itu hampir memukulinya dengan tongkat baseball  karena mengira yang mengendap-ngendap naik tangga di malam hari  itu pencuri.
Sebuah lagu berjudul  Hana milik Ellegarden berdering nyaring di handphone Genji. Dia terjaga dari lamunanya.
“ moshi-moshi…”

Tidak ada suara yang terdengar dari seberang. Genji mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar suara tut-tuttanda telephone itu telah diputus.
“ Dasar, pasti cewe centil kurang kerjaan!” dia memaki dalam hati, kemudian dilanjutkannya menonton Barcelona.
“ Dimanapun kau berada, aku ada bersamamu.” Sebuah pesan singkat muncul di layar Handphone Genji.  Lelaki tampan itu mengerutkan keningnya,” Dari nomor yang menelphone tadi? Jangan-jangan ini keisengan Tamada san, dasar!”  Kemudian terdengar suara  ketukan pintu, Genji san membuka pintu itu pelan.
“ Sudah kuduga, pasti kau yang mengetuk pintu sekeras itu. Ayo masuk!”
“ Kau tahu saja Genji san, aku sedang bosan dirumah. Kau ada makanan apa?”
“ Lihat saja di lemari es. Kenapa kau tidak menemui Yume san saja?”
“ Sekarang aku lebih menyukaimu Genji san,”
“ Apa??!!”
“ Hahahahaa…. Lucu sekali ekspresimu itu. Kau tenang saja, aku normal Genji san, aku hanya bercanda.”
“ Aku harap begitu.”
“ Genji san, aku menemukan ini diluar.”
“ apa?” Genji menerima kotak kecil berisi gantungan kunci berbentuk sakura. Di dalamnya juga terdapat pesan, “ Dimanapun kau berada, aku ada bersamamu.”
Genji mengerutkan keningnya dan tenggalam dalam fikirannya. Laki-laki itu terus menerawang siapa kira-kira pengirim kado dan pesan itu. “ Kalau Tamada san pelakunya, kenapa dia justru menemukan dan memperlihatkan kado itu padaku?”  fikirnya dalam hati. Ternyata Tamada mencermati wajah serius Genji. Dia melemparkan kulit kacang yang membuat Genji kaget dan sedikit kesal.
“ Tamada san!” Genji melototi Tamada.
“ Akhirnya Genji san, sudah lama aku tidak melihat kau melotot seperti itu padaku. Seminggu setelah kepulanganmu dari Indonesia, kau terus saja murung dan mengurung diri. Kalau kau memang kangen dengan Hana san, kembalilah ke Indonesia  untuk menemuinya.”
“ Tidak Tamada san, hatiku sakit melihatnya bersama Adhi.”
“ Kau ini laki-laki atau bukan? Kenapa takut patah hati? Kenapa takut mengatakan cinta? Kau takkan tahu hasilnya jika kau belum mencobanya.”
“ Aku sudah mengatakannya ketika Hana koma, tapi dia sama sekali tidak bergerak. Tidak ada reaksi, bahkan ketika dia sadar dia sama sekali tidak mengingatku.”
“ Dasar pengecut! Sekarang juga kau telephone Hana! Katakan padanya kalau kau mencintainya.”
“ Tapi…”
Tamada memelototi Genji. Kemudian Genji dengan cepat menyambungkan ke telephone Hana.
“ Telephonenya tidak aktif, aku sudah tidak ada harapan lagi.”
“ Rasakan kau! Salah siapa kau tidak berani menyatakan cintamu? Kau memang terlihat sangar, kau juga keras kepala. Tapi kau sungguh pengecut di hadapan Hana san.”
“ Satu-satunya jalan aku harus menemui Hana san dan menyatakan perasaanku secara langsung!”
“ Kenapa kau baru sadar sekarang Genji san? Dasar bodoh!”                                                    

                                                        *Kokoro no tomo*


“ Jadi kau akan ke Indonesia lagi?”
“ Iya yume san. Aku tidak mau kehilangan Hana san. Aku ingin menikahinya, aku ingin merebutnya dari laki-laki bejat itu. Aku akan membuat Hana san mencintaiku seperti aku mencintainya.”
“ Dasar bodoh, sekarang saja kau begitu optimis. Aku yakin, kau akan pucat ketika hendak menyatakan cinta pada Hana san.”  Tabrak Tamada.
“ Berjanjilah padaku Genji san, kau harus mendapatkan Hana san, karena aku tidak rela gadis sebaik dan secantik dia harus hidup bersama laki-laki sebejat Adhi san.” Tambah Yume.
Saat itu mereka bertiga sedang berjalan jalan di benteng Osaka. Biasanya mereka selalu berempat datang ke tempat itu, namun kali ini mereka hanya bertiga tanpa Hana.
“ Dimanapun kau berada, aku ada bersamamu.”  Sebuah pesan singkat kembali muncul di layar handphone Genji. Mereka bertiga berhenti.
“ Tadinya kukira kalian berdua yang iseng padaku. ternyata bukan kalian ya?”
“ Mana mungkin kami iseng seperti itu. Kurang kerjaan.” Tabrak Tamada.
“ Jadi pengirimnya siapa yah?” Genji terlihat sangat bingung. Dia celingukan melihat kanan dan kiri.
“ Kenapa tidak kau balas saja pesannya. Tanyakan, apa dia tahu kau dimana?”
“ Memangnya kau tahu aku ada dimana?”  Genji mengirim pesan singkat itu. Tak sampaidua menit pesan balasannya sudah masuk ke handphone Genji.
“ Dimanapun kau berada, aku ada bersamamu. Kau ada di benteng Osaka bersamaku.”
Balasan itu membuat Genji,Yume dan Tamada kembali mengerutkan kening. Mereka celingukan melihat sekitarbenteng yang ramai. Kemudian Yume san mempunyai ide.
“ Telephone nomer itu sekarang Genji san!” Yume berbisik pelan di telinga Genji.
Mereka semua penasaran dengan pengirim pesan itu. Akhirnya Genji segera menghubungi pemilik nomor itu. Terdengar lagu Lovin’ you milik Minnie Riperton berdering sangat kencang. Genji langsung berlari mencari sumber suara itu. Dia berlari di antara kerumunan orang-orang di sekitar benteng Osaka. Telephone nya tidak diangkat, Genji berhenti dan mengulangi menelphone nomor itu. Dia dengan teliti mendengarkan arah dari sumber suara itu.
Akhirnya Genji menemukan sumber suara itu. Dia melambatkan jalannya ambil kembali menephone nomor itu, memastikan tidak salah orang. Dari kejauhan terlihat seseorang berdiri sedang memandang bunga sakura yang sedang mekar. Dia memakai  jaket berwarna coklat berketu. “ Dari caranya berdiri dan dari model bajunya yang terlihat dari belakang nampaknya seorang perempuan.” Ucap Genji pelan.
Genji semakin pelan mendekati seseorang itu. Ketika berada tepat di belakang gadis itu, dia berhenti sejenak. Disentuhnya pundak orang itu pelan. Orang itu berbalik dan langsung memeluk Genji  dengan cepat sebelum Genji sempat melihat wajahnya dengan jelas. Dalam pelukan itu Genji tidak sadar sedang berbicara sendiri pelan, “ Kok  sekilas seperti Hana san ya? Kenapa orang asing ini langsung memelukku?”
“ Hahahahahahah…. Dasar bodoh, ini aku Hana.”
Genji melepaskan pelukan dan melihat wajah gadis itu dengan seksama. Dilihatnya dari ujumh rambut dan ujung kaki.
“ Wah, kau memang benar Hana san, sini peluk aku lagi!” genji kembali memeluk Hana dengan sangat erat.
“ Genji san, aku tidak bisa bernafas.”
Genji segera melepaskan pelukan itu. “ Maafkan aku, Hana san. Maafkan aku..”
“ Tidak apa-apa Genji san. Ngomong-ngomong ada yang ingin kau bicarakan padaku?”
“ Ada Hana san, ini sangat penting bagiku. Aku…..”
“ Apa ?”
“ Kenapa kau menanyakan itu? Bukannya kau yang menghampiriku di Japan? Kenapa harus aku yang bicara duluan? Kau menemuiku jauh-jauh, sampai menerorku begini pasti ada alasannya kan?”
“ Dasar pengecut, kau ini kan laki-laki! Kauharus ngomong duluan.”
“ apa bedanya laki-laki dengan perempuan?”
“ Yasudah kalau kau tidak mau bicara, lebih baik aku kembali ke Indonesia sekarang juga.”
“ Eh, jangan Hana san, aku masih kangen denganmu. Jangan marah begitu dong.”
“ Yasudah, kau ini mau bicara atau tidak?”
“ Aku mau, tapi aku malu Hana san.”
“ Kau malu kenapa ? kau ini kenapa sih?”
Genji menekuk satu lututnya. dia berlutut dan meraih tangan gadis itu. Hana tidak pernah manyangka hal itu akan terjadi.
“ Hana san, aku ingin jujur padamu. Mungin ini terlihat aneh bagimu. Aku yang biasanya serius berubah menjadi seperti ini. Aku yang biasanya selalu ceplas ceplos denganmu kini terlihat begitu kaku. Aku merasa begitu nyaman berada di dekatmu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh di hatiku, tapi aku selalu cemburu setiap kali kau menyebut Adhi san di depanku. Aku semakin yakin dengan perasaanku saat kau pergi dari hadapanku. Saat kau pulang ke Indonesia, aku merasa tidak ingin berpisah denganmu. Aku tidak tahu apa yang membuatku menyukaimu, tapi dengan semua yang kita lakukan bersama selama ini, aku yakin perasaan nyaman itu bukan sebatas antara sahabat melainkan perasaan yang lebih. Aku tidak pernah berani mengucapkannya karena aku takut kau marah padaku. aku mencintaimu Hana san.”
“ hmmm….. aku tahu itu.”
“ apa??” Genji begitu kaget mendengar jawaban Hana. Dia langsung melepaskan tangan Hana dan segera berdiri. Suasana yang tadinya romantis seketika berubah. “ Kau tahu dari siapa? Tamada san? Dasar tidak bisa jaga rahasia. Kalau begini sudah tidak romantic lagi.” Genji terus mengoceh tiada henti tanpa berani menatap wajah Hana. Jari telunjuk Hana mendarat dibibir Genji. “ Diam Genji san,”  Setelah Genji berhenti mengoceh, Hana menatap dalam mata laki-laki itu. Tangannya bergerak mengulas pipinya. Tumit kakinya diangkat, seketika itu Hana mencium bibir Genji. Laki-laki itu terbius, tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Lalu sekejap Hana menyudahinya.
Sementara genji masih berdiri dengan wajah pucat menatap Hana tanpa ekspresi.
“ Sebulan sebelum aku pulang ke Indonesia, aku sudah merasa ada hal yang berbeda darimu. Aku merasa perhatianmu padaku berubah, namun aku sendiri belum berani untuk menyimpulkan. Sedikit demi sedikit aku mulai bergantung padamu. Kebiasaanku menghabiskan waktu denganmu di Japan, membuatku sering sekali kangen padamu. Dan dengan kacau balaunya perasaanku saat itu, aku sengaja pulang ke Indonesia karena aku ingin memastikan perasaanku hanyalah sebatas  sahabat, dan aku harus bertunangan dengan Adhi san, seseorang yang aku cintai sejak SMA. Namun Adhi san mengkhianatiku, dan kau hadir di saat aku menahan kesakitanku, kau ada bersamaku dan menghiburku setiap saat. Dan saat pertama kalinya aku meraskan kecupan hangat di bibirku, hatiku kian bergetar. Aku semakin yakin kalau aku menyukaimu. Saat itu aku mendengar sesorang bilang bahwa dia mencintaiku, dan orang itu tidak lain adalah kau.”
“ Hana san, bagaimana kau bisa ingat semua itu? Kau mendengar….”
“ Selama ni aku hanya berpura-pura hilang ingatan Genji san.”
“ Tapi kenapa kau lakukan itu?”
“ Karena aku ingin mereka mengakui di hadapanku tentang pengkhianatan mereka. Dan aku ingin tahu siapa orang yang benar-benar mencintaiku.”
“ maafkan aku Hana san,”
“  kenapa kau minta maaf?”
“ Karena aku tidak tega memberitahumu tentang perselingkuhan Adhi dan ibumu.”
“ Kau tidak bersalah Genji san, aku sudah mengetahuinya sejak awal. Sekarang aku dan ibuku sudah rukun. Adhi san meninggal dunia karena kecelakaan. Dan aku sudah ikhlas memafkan semua kesalahannya padaku.”
“ Tapi hatimu..”
“ kenapa dengan hatiku? “
“  Apa kau tidak marah karena aku mencintaimu?”
“ Kenapa aku marah? Aku juga mencintaimu. Kau ini kan temanku.”
“ apa ??  Teman?”
“ iya, maksudku teman hatiku, Kokoro no tomo.”
Dari kejauhan Tamada  dan Yume menatap Genji dan Hana sambil tersenyum. Kemudian mereka berlari dan bergabung.

“ Sebuah magnet yang terbelah akan kembali menyatu karena dua kutubnya. Seperti halnya cinta yang telah digariskan "

Big thanks and big hud to my buddy Maria Marisca Sutikno :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar