Lanjutan dari Part 1
Pandangan Hana tak lepas dari sosok laki-laki di sebelah Tamada. Laki-laki itu terlihat beda dari biasanya. Laki laki itu melamun selama tiga puluh menit di bandara. Hana sendiri bingung kenapa sikap Genji hari itu sangat aneh. Kenapa Genji tidak bercerita atau berbicara banyak dengannya sebelum ia pulang ke Indonesia. Kenapa Genji malah diam dan membuatnya khawatir?
“ Hana san kenapa murung? Memikirkan apa ?” suara Yume san tiba-tiba memecah kegalauan Hana.
“ ah tidak apa-apa Yume san. Aku hanya takut kalian semua melupakanku.”
“ ah tidak mungkin…” Yume dan Tamada kompak. Genji masih terlihat murung. Dua belas menit lagi pesawat Hana akan segera berangkat, tapi Genji masih diam dan entah melayang kemana pikirannya saat itu. Tiga menit berselang, Hana berpamitan pada teman-temannya itu, tapi Genji tetap diam.
“ Hana san kenapa murung? Memikirkan apa ?” suara Yume san tiba-tiba memecah kegalauan Hana.
“ ah tidak apa-apa Yume san. Aku hanya takut kalian semua melupakanku.”
“ ah tidak mungkin…” Yume dan Tamada kompak. Genji masih terlihat murung. Dua belas menit lagi pesawat Hana akan segera berangkat, tapi Genji masih diam dan entah melayang kemana pikirannya saat itu. Tiga menit berselang, Hana berpamitan pada teman-temannya itu, tapi Genji tetap diam.
“ Genji san, aku akan berangkat sebentar lagi. Apa kau sedang tidak enak badan?” Genji tersadar dari lamunannya. Genji melihat Hana berdiri di depannya. “ Genji san kenapa diam? Aku..” Sekejap gadis itu berada di pelukan Genji. Pelukan hangat yang berbeda dari pelukan ibunya. Pelukan yang berbeda dari pelukan Adhi . Lelaki itu memeluknya begitu erat. Kemudian laki laki itu berbisik, “ Hati-hati Hana san. Aku tahu bunga ini suatu saat akan datang padaku!”
“bunga?” Hana melepaskan pelukan Genji.
“ Iya, Hana-bunga!”
“ wah, dari mana kau tahu kata bunga?”
“ Kamus japan-indonesia” Tawa meraka pun pecah saat itu. Tak lama Hana san berjabat tangan dan berpamitan. “ sayonara!”
*Kokoro no tomo*
Sinar matahari menerobos kaca pesawat. Hana menikmakmati keindahan yang terlihat di panca inderanya kala itu. Sambil melihat keelokan alam, pikiran Hana kembali pada masa-masa SMA lima tahun lalu. Masa-masa indah bersama Adhi juga ibunya. Ketika mereka sama-sama lulus SMA, ketika mereka merayakan ultah ibu Hana yang ke 34 tahun.
Pukul sepuluh rabu pagi, Hana sudah sampai di Jakarta. Hari ini tentu tidak ada yang menjemputnya, karena Hana tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya ke Jakarta. Setelah sampai, Hana buru-buru mencari Taxi yang kemudian membawanya ke daerah Kemang, rumah ibunya. Ketika Hana sampai, Hana melihat Honda jass silver di depan rumahnya. Sepertinya Honda jass itu mobil baru ibunya yang punya usaha restoran di 4 kota, Jakarta, Bandung, Bali dan Tangerang. Pintunya ternyata tidak di kunci, Hana langsung bergegas masuk dan mencari ibunya. Rumahnya terlihat sepi, Hana berpikir, mungkin ibunya sedang di resto. Kemudian dia hendak tiduran di kamar ibunya dan memberi kejutan ketika ibunya pulang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan mirip suara ibunya, Hana semakin mempercepat langkahnya, takut terjadi hal buruk dengan ibunya. Dia langsung menerobos masuk ke kamar ibunya. Terlihat dari ambang pintu, ibunya sedang bugil di atas ranjang bersama seorang pria. Jantungnya hampir copot, nafasnya terengah-engah melihat kejadian di depan matanya. “ apa yang terjadi? Siapa laki-laki itu?” ucapnya dalam hati. Bunyi pintu yang terbawa angin meyadarkan ibu hana. Dia menoleh ke pintu tak percaya anaknya berdiri di ambang pintu.
“ Hana?”Laki-laki itu pun menoleh, Adhi chan! Mata Hana semakin berat menahan laju air mata yang hendak tumpah melihat apa yang terjadi hari itu. Kakinya kaku, lidahnya kelu, tak mampu terkata. Adhi cepat-cepat memakai bajunya dan segera mengejar Hana yang berlari ketika melihat Adhi. Adhi berhasil meraih tangan Hana.
“ sayang, ini semua gak seperti apa yang kamu bayangin.”
“ apa kamu pikir aku ini buta? Tega-teganya kamu berselingkuh dengan ibuku sendiri, bahkan sampai melakukan hal kejih seperti itu!”
“ Tapi sayang,”
“ Gak usah panggil aku sayang lagi. Mulai sekarang kita putus. Aku gak mau ingat tentang kamu lagi!”
Hana melepaskan genggaman adhi, kemudian ke kamarnya mengambil kunci mobil, dan segera meninggalkan rumah.
“ Apa yang harus kita lakukan?” ibu Hana keluar dari kamar dan menemui Adhi.
“ Kamu tenang aja ya sayang, semua akan baik-baik aja.” Laki-laki itu memeluk ibu Hana.
*Kokoro no tomo*
“ Genji san!”
“ hey, Hana san, bagaimana perjalananmu? Apakah Adhi san….” Perkataan Genji san terpotong isak tangis Hana. “ hey, Hana san, kau kenapa?”
“ Genji san… hikshiks… Genji san!” tangis Hana semakin menjadi.
“ Hana san, jangan membuatku khawatir! Kau kenapa? Ada di mana ?” Hana san tidak menjawab apa-apa. Hana terlalu panik mengendalikan kemudinya. Di sana, Genji san semakin khawatir dan berkata “ Hana san, jawab aku!” berkali-kali. Genji sangat khawatir, Hana san terus menangis dan tidak menjawabnya. Kemudian Genji san mendengar suara rem yang mendecit dan suara hantaman keras yang mengikutinya. Beberapa saat tak ada suara, kemudian terdengar suara Hana san yang terbata-bata, “ ge,,geennjjiiiii saaa...”, hening.
*Kokoro no tomo*
“ Bagaimana keadaannya dok ? saya ibu dari pasien itu.”
“ kepalanya mengeluarkan begitu banyak darah. Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi saat ini dia masih belum sadarkan diri. Mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar. “
“ syukurlah,” Adhi dan ibu hana sedkit lega mendengar berita itu.
Beberapa jam sudah, namun Hana masih belum sadar juga. Ibu Hana dan Adhi semakin gelisah, membuat mereka tidak bisa tidur. Rasa bersalah terus menghantui Ibu Hana dan Adhi. Mereka di hinggapi rasa takut. Mereka takut Hana tidak mau memaafkan mereka, mereka takut sesuatu terjadi pada gadis itu, mereka takut mereka akan kehilangan gadis itu. Malam itu mereka saling diam. Mereka duduk bersebelahan malam itu, namun tak sepatah katapun terucap, hanya memikirkan seorang, Hana.
*Kokoro no tomo*
“ Genji san, kabari kami kalau kau sudah sampai disana ya!”
“ Pasti Tamada san. Jaga Yume san baik-baik. Aku harus melihat keadaan gadis itu sekarang.” Yume san tersenyum tipis. Dalam hatinya, dia begitu khawatir terjadi sesuatu pada Hana. “ pastikan Hana san baik-baik saja!” sambung Yume san.
Untuk pertama kalinya, Tamada san memeluk Genji, lelaki yang jarang akur dengannya.
“ Lakukan yang terbaik untuk Hana san, sampaikan perasaanmu sebelum semua terlambat.” Tamada san menepuk pundak Genji san. Genji san menjawabnya dengan senyuman. Senyuman paling tulus yang pernah Tamada san dan Yume san lihat. *Kokoro no tomo*
“bunga?” Hana melepaskan pelukan Genji.
“ Iya, Hana-bunga!”
“ wah, dari mana kau tahu kata bunga?”
“ Kamus japan-indonesia” Tawa meraka pun pecah saat itu. Tak lama Hana san berjabat tangan dan berpamitan. “ sayonara!”
*Kokoro no tomo*
Sinar matahari menerobos kaca pesawat. Hana menikmakmati keindahan yang terlihat di panca inderanya kala itu. Sambil melihat keelokan alam, pikiran Hana kembali pada masa-masa SMA lima tahun lalu. Masa-masa indah bersama Adhi juga ibunya. Ketika mereka sama-sama lulus SMA, ketika mereka merayakan ultah ibu Hana yang ke 34 tahun.
Pukul sepuluh rabu pagi, Hana sudah sampai di Jakarta. Hari ini tentu tidak ada yang menjemputnya, karena Hana tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya ke Jakarta. Setelah sampai, Hana buru-buru mencari Taxi yang kemudian membawanya ke daerah Kemang, rumah ibunya. Ketika Hana sampai, Hana melihat Honda jass silver di depan rumahnya. Sepertinya Honda jass itu mobil baru ibunya yang punya usaha restoran di 4 kota, Jakarta, Bandung, Bali dan Tangerang. Pintunya ternyata tidak di kunci, Hana langsung bergegas masuk dan mencari ibunya. Rumahnya terlihat sepi, Hana berpikir, mungkin ibunya sedang di resto. Kemudian dia hendak tiduran di kamar ibunya dan memberi kejutan ketika ibunya pulang. Tiba-tiba terdengar suara teriakan mirip suara ibunya, Hana semakin mempercepat langkahnya, takut terjadi hal buruk dengan ibunya. Dia langsung menerobos masuk ke kamar ibunya. Terlihat dari ambang pintu, ibunya sedang bugil di atas ranjang bersama seorang pria. Jantungnya hampir copot, nafasnya terengah-engah melihat kejadian di depan matanya. “ apa yang terjadi? Siapa laki-laki itu?” ucapnya dalam hati. Bunyi pintu yang terbawa angin meyadarkan ibu hana. Dia menoleh ke pintu tak percaya anaknya berdiri di ambang pintu.
“ Hana?”Laki-laki itu pun menoleh, Adhi chan! Mata Hana semakin berat menahan laju air mata yang hendak tumpah melihat apa yang terjadi hari itu. Kakinya kaku, lidahnya kelu, tak mampu terkata. Adhi cepat-cepat memakai bajunya dan segera mengejar Hana yang berlari ketika melihat Adhi. Adhi berhasil meraih tangan Hana.
“ sayang, ini semua gak seperti apa yang kamu bayangin.”
“ apa kamu pikir aku ini buta? Tega-teganya kamu berselingkuh dengan ibuku sendiri, bahkan sampai melakukan hal kejih seperti itu!”
“ Tapi sayang,”
“ Gak usah panggil aku sayang lagi. Mulai sekarang kita putus. Aku gak mau ingat tentang kamu lagi!”
Hana melepaskan genggaman adhi, kemudian ke kamarnya mengambil kunci mobil, dan segera meninggalkan rumah.
“ Apa yang harus kita lakukan?” ibu Hana keluar dari kamar dan menemui Adhi.
“ Kamu tenang aja ya sayang, semua akan baik-baik aja.” Laki-laki itu memeluk ibu Hana.
*Kokoro no tomo*
“ Genji san!”
“ hey, Hana san, bagaimana perjalananmu? Apakah Adhi san….” Perkataan Genji san terpotong isak tangis Hana. “ hey, Hana san, kau kenapa?”
“ Genji san… hikshiks… Genji san!” tangis Hana semakin menjadi.
“ Hana san, jangan membuatku khawatir! Kau kenapa? Ada di mana ?” Hana san tidak menjawab apa-apa. Hana terlalu panik mengendalikan kemudinya. Di sana, Genji san semakin khawatir dan berkata “ Hana san, jawab aku!” berkali-kali. Genji sangat khawatir, Hana san terus menangis dan tidak menjawabnya. Kemudian Genji san mendengar suara rem yang mendecit dan suara hantaman keras yang mengikutinya. Beberapa saat tak ada suara, kemudian terdengar suara Hana san yang terbata-bata, “ ge,,geennjjiiiii saaa...”, hening.
*Kokoro no tomo*
“ Bagaimana keadaannya dok ? saya ibu dari pasien itu.”
“ kepalanya mengeluarkan begitu banyak darah. Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi saat ini dia masih belum sadarkan diri. Mungkin beberapa jam lagi dia akan sadar. “
“ syukurlah,” Adhi dan ibu hana sedkit lega mendengar berita itu.
Beberapa jam sudah, namun Hana masih belum sadar juga. Ibu Hana dan Adhi semakin gelisah, membuat mereka tidak bisa tidur. Rasa bersalah terus menghantui Ibu Hana dan Adhi. Mereka di hinggapi rasa takut. Mereka takut Hana tidak mau memaafkan mereka, mereka takut sesuatu terjadi pada gadis itu, mereka takut mereka akan kehilangan gadis itu. Malam itu mereka saling diam. Mereka duduk bersebelahan malam itu, namun tak sepatah katapun terucap, hanya memikirkan seorang, Hana.
*Kokoro no tomo*
“ Genji san, kabari kami kalau kau sudah sampai disana ya!”
“ Pasti Tamada san. Jaga Yume san baik-baik. Aku harus melihat keadaan gadis itu sekarang.” Yume san tersenyum tipis. Dalam hatinya, dia begitu khawatir terjadi sesuatu pada Hana. “ pastikan Hana san baik-baik saja!” sambung Yume san.
Untuk pertama kalinya, Tamada san memeluk Genji, lelaki yang jarang akur dengannya.
“ Lakukan yang terbaik untuk Hana san, sampaikan perasaanmu sebelum semua terlambat.” Tamada san menepuk pundak Genji san. Genji san menjawabnya dengan senyuman. Senyuman paling tulus yang pernah Tamada san dan Yume san lihat. *Kokoro no tomo*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar