Genji san terlihat kebingungan mencari rumah Hana san. Setelah setengah jam mondar mandir di daerah kemang, akhirnya Genji san menemukan rumah Hana san.
“ sumimasen, Hana san….” Ibu Hana terlihat bingung melihat lelaki tampan bermata sipit di depan nya.
“ can you speak English?” ibu Hana berbicara hati-hati.
Genji san terdiam sejenak. Dalam hatinya dia bingung bagaimana cara dia mengatakan bahwa dia adalah teman Hana dari Japan. Bahasa Inggris Genji san sangat payah. Kemudian dia membuka kamus japan-indonesia nya. Dia mencari-cari bahasa Indonesia dari tomodachi.
“ Temang Hana san, Tokyo, Japan.”
“ maksud anda teman Hana dari Tokyo?”
“ Hai, te-man Hana.”
“ oh, saya ibunya. Nama anda siapa?” lagi-lagi Genji terlihat bingung. “ mom, mother. “
“ mother? Namae wa? ” senyum Genji mengembang. “ Hajimemashite, Genji san. Douzoyoroshiku.”
“ sumimasen, Hana san….” Ibu Hana terlihat bingung melihat lelaki tampan bermata sipit di depan nya.
“ can you speak English?” ibu Hana berbicara hati-hati.
Genji san terdiam sejenak. Dalam hatinya dia bingung bagaimana cara dia mengatakan bahwa dia adalah teman Hana dari Japan. Bahasa Inggris Genji san sangat payah. Kemudian dia membuka kamus japan-indonesia nya. Dia mencari-cari bahasa Indonesia dari tomodachi.
“ Temang Hana san, Tokyo, Japan.”
“ maksud anda teman Hana dari Tokyo?”
“ Hai, te-man Hana.”
“ oh, saya ibunya. Nama anda siapa?” lagi-lagi Genji terlihat bingung. “ mom, mother. “
“ mother? Namae wa? ” senyum Genji mengembang. “ Hajimemashite, Genji san. Douzoyoroshiku.”
Kali ini Ibu Hana yang kebingungan. Genji san menyadari hal itu, dia langsung mencari bahasa Indonesia dari kata watashi di kamusnya.
“ saya, Genji san.” Genji menambahkan.
Senyum ibu Hana mengambang. Kebetulan Ibu Hana memanga akan ke rumah sakit. Tanpa basa-basi ibu Hana mengajak Genji san masuk ke mobilnya. Ketika melihat wajah Genji san yang kebingungan, ibu Hana langsung menjelaskan. “ Hospital.”
Genji tidak banyak tanya. Dia hanya mengangguk dan mengikuti ajakan ibu Hana. Walaupun baru sekali ini bertemu, dia percaya pada wanita itu. Seperti dia begitu mempercayai Hana Virginia candy. Dalam hatinya ada kekhawatiran kenapa ibu ini mengajaknya ke rumah sakit. Apakah Hana sakit? Arrgghh..! Dia usir pikiran buruk itu, semoga saja Hana hanya sedang menjenguk sodaranya di rumah sakit.
Dalam perjalanan, genji mengamati jalan yang di laluinya. Dia begitu ingin menganal tanah kelahiran Hana, tentunya genji san sudah tidak sabar menemui gadis yang paling di cintainya itu dan memintanya untuk menemani berkunjung ke tempat-tempat menarik di Jakarta.
Sambil menyetir ibu Hana diam-diam mengamati Genji san, “ tampan juga ternyata.” Ucapnya dalam hati. Sesampainya di rumah sakit, ibu Hana buru-buru mengajak Genji ke ruang 233 di lantai tiga. Di dekat kamar Hana, Genji san dan ibu Hana berpapasan dengan Adhi san. “Apa itu Adhi san ?” ucap Genji dalam hati. Matanya diam-diam melirik ke arah Adhi. Adhi yang menyadari tatapan itu mengarah ke arahnya, membalasnya dengan tatapan sinis ke arah Genji. Saat itu Adhi langsung menarik tangan ibu Hana dan membawanya ke suatu tempat. Genji yang melihat pemandangan itu merasa aneh, “ kalau dia memang Adhi san, kenapa menggenggam tangan ibu Hana seperti itu? Atau dia cemburu karena menebak aku mencitai Hana?” pikirnya.
Tak ingin terjebak pada kecurigaan itu, Genji berjalan perlahan sambil menengok ke setiap kaca kamar inap, dan berharap segera menemukan Hana untuk segera memeluk dan menanyakan kabarnya. Tba-tiba langkah Genji terhenti pada suatu kamar bernomor 233 di lantai tiga itu.
*Kokoro no tomo*
Di pojok ruangan di dekat kamar mandi, Adhi dan ibu Hana saling berbicara serius.
“ Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa aku masih kurang tampan untuk kau miliki?” wajah Adhi terlihat marah. Terlihat segelincir kekhawatiran di raut wajahnya.
“ Kau jangan asal menuduh sayang, dia itu Genji, teman Hana dari Tokyo. Dia kemari mencari Hana.”
“ Benarkah? Maafkan aku karena telah mencurigaimu.” Adhi memeluk wanita itu.
*Kokoro no tomo*
Matanya terpaku pada satu titik, dimana gadis itu terbaring di ranjang. Matanya terasa begitu berat, kakinya tak ingin melangkah, melihat apa yang tertangkap oleh matanya. Laki-laki itu masuk diam-diam. Dilihatnya seorang gadis itu tenang terbaring dalam ranjang itu. Kelopak matanya pun tak dapat membendung derasnya air pilu yang mulai membasahi pipinya. Di genggamnya tangan gadis itu, “ Hana san.”
Mata gadis itu mulai bergerak. Dikeluarkannya sebutir air mata yang mulai menggelinding seperti bola bowling. Laki-laki yang sedang menatapnya itu tidak lagi berkata. Dia menyesal telah membuat gadis yang paling dicintainya itu menangis.
Ternyata air mata yang di keluarkan Hana bukan hanya reflek karena adanya kepekaan dengan sentuhan. Namun, Hana memang mendengar suara Genji saat itu. Dia ingin menangis dalam pelukan Genji, namun dia tidak ingin berharap. Mungkin suara itu hanya mirip dengan suara Genji, karena Hana tahu, Genji berada di Tokyo bersama Tamada san dan Yumi san. Gadis itu kembali tenang.
Selama berjam-jam Genji memandang gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia takut gadis itu akan menangis lagi mendengar suaranya. Genji mengeluarkan kamus japan-indonesia nya dan mulai membaca. Dalam hatinya genji berjanji kalu dia harus bisa berbahasa Indonesia. Setidaknya agar komunikasi antara dia dan ibu Hana lancar.
Ibu Hana dan Adhi membiarkan Genji menemani Hana seharian ini. Ibu Hana harus ke resto untuk mengecek, dan Adhi ada kuliah hari ini.
Genji sangat fokus membaca kamus itu, sesekali dia berlatih berbicara dalam hati.
*Kokoro no tomo*
“ saya, Genji san.” Genji menambahkan.
Senyum ibu Hana mengambang. Kebetulan Ibu Hana memanga akan ke rumah sakit. Tanpa basa-basi ibu Hana mengajak Genji san masuk ke mobilnya. Ketika melihat wajah Genji san yang kebingungan, ibu Hana langsung menjelaskan. “ Hospital.”
Genji tidak banyak tanya. Dia hanya mengangguk dan mengikuti ajakan ibu Hana. Walaupun baru sekali ini bertemu, dia percaya pada wanita itu. Seperti dia begitu mempercayai Hana Virginia candy. Dalam hatinya ada kekhawatiran kenapa ibu ini mengajaknya ke rumah sakit. Apakah Hana sakit? Arrgghh..! Dia usir pikiran buruk itu, semoga saja Hana hanya sedang menjenguk sodaranya di rumah sakit.
Dalam perjalanan, genji mengamati jalan yang di laluinya. Dia begitu ingin menganal tanah kelahiran Hana, tentunya genji san sudah tidak sabar menemui gadis yang paling di cintainya itu dan memintanya untuk menemani berkunjung ke tempat-tempat menarik di Jakarta.
Sambil menyetir ibu Hana diam-diam mengamati Genji san, “ tampan juga ternyata.” Ucapnya dalam hati. Sesampainya di rumah sakit, ibu Hana buru-buru mengajak Genji ke ruang 233 di lantai tiga. Di dekat kamar Hana, Genji san dan ibu Hana berpapasan dengan Adhi san. “Apa itu Adhi san ?” ucap Genji dalam hati. Matanya diam-diam melirik ke arah Adhi. Adhi yang menyadari tatapan itu mengarah ke arahnya, membalasnya dengan tatapan sinis ke arah Genji. Saat itu Adhi langsung menarik tangan ibu Hana dan membawanya ke suatu tempat. Genji yang melihat pemandangan itu merasa aneh, “ kalau dia memang Adhi san, kenapa menggenggam tangan ibu Hana seperti itu? Atau dia cemburu karena menebak aku mencitai Hana?” pikirnya.
Tak ingin terjebak pada kecurigaan itu, Genji berjalan perlahan sambil menengok ke setiap kaca kamar inap, dan berharap segera menemukan Hana untuk segera memeluk dan menanyakan kabarnya. Tba-tiba langkah Genji terhenti pada suatu kamar bernomor 233 di lantai tiga itu.
*Kokoro no tomo*
Di pojok ruangan di dekat kamar mandi, Adhi dan ibu Hana saling berbicara serius.
“ Siapa sebenarnya laki-laki itu? Apa aku masih kurang tampan untuk kau miliki?” wajah Adhi terlihat marah. Terlihat segelincir kekhawatiran di raut wajahnya.
“ Kau jangan asal menuduh sayang, dia itu Genji, teman Hana dari Tokyo. Dia kemari mencari Hana.”
“ Benarkah? Maafkan aku karena telah mencurigaimu.” Adhi memeluk wanita itu.
*Kokoro no tomo*
Matanya terpaku pada satu titik, dimana gadis itu terbaring di ranjang. Matanya terasa begitu berat, kakinya tak ingin melangkah, melihat apa yang tertangkap oleh matanya. Laki-laki itu masuk diam-diam. Dilihatnya seorang gadis itu tenang terbaring dalam ranjang itu. Kelopak matanya pun tak dapat membendung derasnya air pilu yang mulai membasahi pipinya. Di genggamnya tangan gadis itu, “ Hana san.”
Mata gadis itu mulai bergerak. Dikeluarkannya sebutir air mata yang mulai menggelinding seperti bola bowling. Laki-laki yang sedang menatapnya itu tidak lagi berkata. Dia menyesal telah membuat gadis yang paling dicintainya itu menangis.
Ternyata air mata yang di keluarkan Hana bukan hanya reflek karena adanya kepekaan dengan sentuhan. Namun, Hana memang mendengar suara Genji saat itu. Dia ingin menangis dalam pelukan Genji, namun dia tidak ingin berharap. Mungkin suara itu hanya mirip dengan suara Genji, karena Hana tahu, Genji berada di Tokyo bersama Tamada san dan Yumi san. Gadis itu kembali tenang.
Selama berjam-jam Genji memandang gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia takut gadis itu akan menangis lagi mendengar suaranya. Genji mengeluarkan kamus japan-indonesia nya dan mulai membaca. Dalam hatinya genji berjanji kalu dia harus bisa berbahasa Indonesia. Setidaknya agar komunikasi antara dia dan ibu Hana lancar.
Ibu Hana dan Adhi membiarkan Genji menemani Hana seharian ini. Ibu Hana harus ke resto untuk mengecek, dan Adhi ada kuliah hari ini.
Genji sangat fokus membaca kamus itu, sesekali dia berlatih berbicara dalam hati.
*Kokoro no tomo*
Ibu Hana kembali ke rumah sakit di sore hari dengan membawa makanan dari restonya. Dia sudah menebak, Genji tidak mungkin memesan makanan karena Genji belum fasih berbahasa Indonesia. Ketika masuk kamar Hana, terlihat Genji san tertidur di sebelah ranjang Hana.
“ Genji!” perlahan Genji membuka kedua matanya. Dia langsung berdiri dan terlihat agak kaget melihat ibu Hana di depannya. Ibu hana segera manarik Genji ke sofa di kamar itu, kemudian mengeluarkan makanan yang di bawanya.” Kau belum makan kan? Ini untukmu.”
Hening. Ibu Hana menambahkan, “ this is for you.” Tercipta seulas senyuman di wajah Genji. Dia segera membuka makanan itu. Mereka mulai memakan makanannya.
“ Terima kasih ibu.” Ibu Hana tersedak.
“ kau bisa berbahasa Indonesia?” katanya heran.
“ saya belajar.” Genji menunjukan kamus di sebelah ranjang Hana. Ibu Hana mangut-manggut.
Setelah selesai makan, ibu Hana berniat mengajarkan bahasa Indonesia pada Genji. “makan.” Ibu hana mencontohkan gerakan makan. Genji manggut-manggut saja. “ sendok, garpu, sofa, meja,” ibu Hana dengan semangat mengajarkan berbagai kata bahasa Indonesia yang bendanya ada di ruangan itu pada Genji pelan-pelan. Sedikit demi sedikit, Genji mulai mengerti apa yang diajarkan ibu Hana.
*Kokoro no tomo*
Hari demi hari Genji semakin tertarik dengan bahasa Indonesia. Dia semakin giat berlatih, dan mulai menemukan titik terang. Sebulan di Indonesia membuatnya mulai fasih berbahasa Indonesia. Tanpa dia sadar, sesorang mengamatinya dengan sinis. Adhi mulai curiga bila Genji mencintai Hana.
“ Hana san, apa kamu tahu? Aku, Tamada san dan Yumi san sangat merindukanmu. Berjanjilah padaku, kau akan kembali ke Tokyo sesegera setelah kau sadar. Tamada san dan Yumi sa sangat menghawatirkanmu.” Setiap hari Genji mengajak Hana berbicara walau laki-laki itu tak tahu pasti, apakah gadis itu mendengarnya atau tidak. Dia tak bosan-bosannya bercerita tentang kenangannya bersama Hana di Japan.
Dia juga bercerita bahwa dia sudah mulai bisa berbahasa Indonesia. Dia sudah mudah berkomunikasi dengan orang Indonesia, walau sesekali dia masih harus membuka kamusnya. Sesekali Genji mengatakan kesedihannya, karena sudah lebih dari sebulan Hana belum juga sadar dari komanya. Lelaki itu begitu merindukan gadis yang terbaring di hadapannya itu. Laki-laki temperament ini mejadi lebih lembut beberapa hari ini. Dia lebih tenang dan sabar.
“ Aku mulai suka bakso, soto, gado-gado, dan makanan Indonesia lainnya. Kau harus cepat sadar, aku sudah lama tak mendengar kau bawel dan merengek ini itu padaku. kau juga harus sesegera mungkin mengajakku mencicipi makanan Indonesia lainnya setelah kau sadar nanti. Ingat baik-baik, kau tidak boleh mati, karena kau masih berhutang janji menonton konser No Regret Life bersamaku. Kau ingat kan ?”
Dari balik kaca, ibu Hana dan Adhi mengamati Genji yang asyik bercerita kepada Hana. Mereka sudah lebih dari lima menit mendengarkan laki-laki itu mengoceh dengan bahasa asing yang tidak mereka mengerti artinya.
“ sepertinya Hana dan Genji sangat akrab. Kau tidak cemburu kan?”
“ Untuk apa aku cemburu, aku sudah jadi milikmu. Lagi pula Hana sudah terlanjur tahu tentang hubungan kita. Jujur, aku masih memiliki rasa kepadanya. Namun aku ini bukan laki-laki yang baik untuknya. Aku bahkan tega berselingkuh dengan ibunya sendiri. “
“ Aku juga salah, karena memiliki perasaan cinta padamu. Jadi, apa kau akan melepaskan Hana dan menjalin hubungan yang lebih serius denganku setelah Hana sadar?”
“ Mungkin, itu akan ku pikirkan matang-matang.”
Di layar handphonenya, Genji melihat bayangan ibu Hana dan Adhi di kaca itu. Adhi merangkul ibu Hana saat itu. Genji menyadari sikap aneh antara ibu dan calon menantunya itu. Tapi dia tidak ingin berperasangka buruk pada ibu Hana.
*Kokoro no tomo*
**Maria Marisca Sutikno**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar