Ini sudah 2018. New year new me kata orang-orang. Ketika orang lain sibuk membuat resolusi sana-sini dan melihat kedepan, saya malah sibuk melihat kebelakang, merecall kenangan-kenangan saya selama exchange.Saya belum bisa move on! Pengalaman, kawan baru, tempat baru, local value(s) baru, makanan baru yang saya dapat disana serasa film yang terus berputar di kepala saya secara otomatis. Ini adalah pengalaman exchange saya pertama kali setelah menunggu selama 4,5 tahun (di bangku kuliah) dan 22 tahun (umur saya saat itu). Bagaimana saya tidak terus terngiang-ngiang saat-saat saya disana? Semua penantian, pengorbanan menunda sidang skripsi yang otomatis memundurkan tanggal kelulusan saya, dan puasa di negeri orang rasanya kok manis sekali seperti senyuman doi (eaaak). Gimana saya bisa move on saudara-saudari sekalian? :(
Sebenarnya apa si yang saya cari dari exchange?
Exchange tu ribet. Dokumen yang diperlukan buanyak banget. Bolak-balik rektorat, dekanat, dan departemen hampir setiap hari. Bikin visa ke Jakarta, jauh. Ongkosnya ga murah. Tapi dibalik itu semua saya merasakan makna perjuangan. Berjuang sendiri dan bersama-sama. Perjuangan ini membuat saya mendapatkan banyak kawan baru baik di Indonesia maupun di Vietnam. Lalu passion, tanpa ini saya tidak akan bisa dan mau ikut exchange. Tapi kenapa passion saya di exchange?
Ada quote dari Imam Syafi'i yang saya tulis di jurnal saya, berbunyi
Namun Vietnam menang! Perang ini berakhir pada tahun 1973 dengan ditanda tanganinya Paris Peace Accords. Saat saya di Vietnam, saya banyak berbincang dengan dosen saya mengenai ini. Saya juga membahas ini dalam salah satu paper saya. Jawaban yang saya temukan tentang mengapa Vietnam bisa menang perang antara lain penggunaan taktik perang gerilya, penggunaan Cu Chi Tunnel, Ho Chi Minh Trail dan Tet Offensive. Hebat!
"Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang"
Saya menemukan quote ini di buku milik Ahmad Fuadi. Saat saya membaca quote tersebut, saya merasa tertantang. Tertantang untuk keluar dari kampung halaman saya. Dari zona nyaman saya. Dunia ini seperti satu rumah. Kalau saya hanya berdiam diri di kamar tidur saya, untuk apa saya hidup di rumah saya? Saya harus ke ruang makan, kamar mandi, teras, bahkan halaman belakang. Dengan pergi dari kampung halaman saya, saya bisa merubah cara pandang saya terhadap dunia dan meluaskan pemikiran saya.
Namun, kenapa saya memilih Vietnam?
Jawaban saya sederhana. Saya memilih Vietnam karena saya tertarik dengan sejarah negara ini. Vietnam pernah menjadi salah satu medan tempur saat cold war. Pertempuran terjadi dimana-mana antara tentara Viet Cong dan tentara USA. USA menghabiskan $25 milyar per tahunnya untuk Perang Vietnam. Jangan tanyakan berapa korban jiwa dan total kerusakan yang terjadi. Juga Agent Orange yang turut digunakan saat perang. Perlengkapan dan peralatan perang milik USA sangat maju saat itu.
![]() |
| Tank dengan 175 mm artillery |
![]() |
| A-37 Aircraft |
Akhir kata (?) saya sarankan saudara-saudari (??) sekalian untuk kejar passion kalian. Pursue it! Korbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Hasilnya akan terasa manis insyaAllah. Hidup ini hanya sekali. Kalau tidak digunakan sebaik-baiknya, sayang sekali kan?



Korbankan sesuatu untuk mendapat sesuatu, QOTD.. Asal jangan dibelokin aja maknanya hehehe
BalasHapusBener thoo hehe kamu pengen money ya kerja. Korbankan waktu tenaga pikiran. Ojo dibelokin ih nanti susah muter baliknya😂
Hapus