Kamis, 22 Februari 2018

Hati-hati di Dunia Cyber

Setelah bekerja sebagai salah satu Social Media Support di perusahaan fintech di Semarang yang setiap hari online dan saya sendiri pengguna aktif sosial media, saya mendapati beberapa perilaku para netizen di Indonesia khususnya, dalam menggunakan internet. Para netizen khususnya di Indonesia ini suka membaca. Lha wong postingan dari salah satu akun instagram gosip aja setiap hari dibaca kok termasuk saya juga. Mereka mau membaca headline berita yang judulnya wow tapi hoax dan berasal dari situs abal-abal daripada judul yang biasa saja tapi berita tersebut real dan berasal dari situs terpercaya. Parahnya, setelah membaca berita hoax ini, mereka menyebarkannya dan orang yang membaca berita tersebut menyebarkannya lagi dan begitu seterusnya. Namun, jika ada judul berita yang biasa saja namun dari situs yang kredibel netizen justru kurang melirik ini. Begitu mudahnya sebuah judul berita menggiring persepsi masyarakat. Jadi, kalau kalian mau blog kalian banyak dibaca orang, coba gunakan judul artikel yang wow dan cenderung membuat pembaca merasa triggered. Hehe.

Netizen di Indonesia juga kurang teliti dalam membaca suatu artikel. Sebenarnya semua informasi sudah ada di artikel tersebut namun karena kurang ketelitian, mereka akhirnya mengarang sendiri cerita yang berlandaskan artikel tersebut namun ditambah dengan pengetahuan mereka sendiri yang terkadang tidak benar adanya. Yang kemudian ditambah-tambahi oleh orang lain yang bahkan tidak membaca artikel tersebut sama sekali. Ini ibarat gambar dibawah ini

Sumber
Penggunaan bahasa para netizen juga menurut saya kurang patut untuk ditulis di dunia cyber. Mereka ini gemar sekali menggunakan kata-kata kasar, makian, ujaran kebencian dan bahkan ancaman. Padahal, orang dibalik layar juga adalah manusia yang punya hati dan perasaan. Yang bisa saja mereka ini sakit hati karena komentar atau postingan yang dibuat oleh oknum. Saya jadi ingat salah satu webtoon yang pernah saya baca. Yang intinya adalah ucapan seseorang bisa menjadi senjata pembunuh orang lain. Untuk webtoon lengkapnya silakan klik disini. Saya pribadi juga sering merasa gemas karena postingan atau komentar netizen yang membuat saya triggered dan ingin rasanya saya menulis kata-kata kasar, sangat kasar, dan paling kasar. Namun saya rasa itu tidak perlu dan tidak patut saya tulis di sosial media. Karena apa? Karena orang dibalik layar adalah manusia seperti saya. Bayangkan jika kamu dikata-katain di internet. Kan kesel. Tidak bisa nampol langsung. Hehe. Maaf.

Pengguna internet di Indonesia juga suka menulis/memposting hal-hal pribadi mereka. Liburan keluar negeri, posting paspor, visa dan yang paling sering adalah boarding pass. Yang mereka kurang tahu adalah semua itu berisikan informasi pribadi yang bisa ditelusuri. Bayangkan jika ada yang menduplikat paspor kita dan menggunakannya untuk tindak kriminal. Siapa yang kena? Kita kan? Menurut Steve Hui selaku pakar travelling penerbangan dilansir dari Detik Travel, jika kita memposting boarding pass walaupun nama penumpang dan informasi penerbangan sudah disensor, tetap bisa dilacak. Semua huruf dan angka di boarding pass bisa dilacak secara virtual. Jika kode booking pesawat dimasukkan ke situs maskapai yang kita gunakan, akan muncul identitas kita, rencana perjalanan dan bahkan kartu kredit (jika kita memakai kartu kredit) yang kita gunakan untuk booking tiket. Barcode yang muncul di boarding pass juga bisa discan oleh orang lain. Dan lagi lagi, muncullah semua informasi pribadi kita. Lebih baik kalau mau posting jalan-jalan keluar negeri posting saat di lounge bandara saja atau saat didalam pesawat. Atau kalau mau posting boarding pass, blur saja boarding passnya. Semuanya. Demi keamanan diri sendiri.

Selain memposting boarding pass saat liburan, saya banyak mendapati teman-teman saya di Facebook memposting anak mereka yang baru lahir. Sebagai jomblo single nan happy ini, saya merasa iri. Lho siapa yang ndak iri melihat bayi unyu? Situ ndak iri? Tapi, ternyata ada bahaya juga ketika mengupload foto bayi yang bahkan masih belum tahu ada internet di dunia ini (atau sudah?). Ada sebuah akun instagram yang bernama @jualbayimurah (yang sekarang sudah tidak ada lagi). Dia (atau mereka) mengambil foto dari sembarang orang yang mengupload foto-foto anaknya di media sosial. Bayangkan Anda memposting foto anak/sepupu/keponakan Anda pagi hari, sore harinya Anda mendapati foto tersebut sudah ada di akun yang tidak patut. Bagaimana perasaan Anda? 

Yang terakhir yang tidak kalah saya banyak jumpai adalah postingan yang berbau hal-hal pribadi yang sangat pribadi. Menurut saya, itu tidak patut di posting di sosial media. Kenapa? Ya simply karena itu adalah hal yang harusnya Anda simpan untuk Anda sendiri. Gampangnya, coba Anda bayangkan informasi pribadi Anda digunakan untuk tindak kriminal atau hal-hal yang tidak terpuji. Misalnya seseorang menggunakannya untuk menebar ujaran kebencian. Kan Anda sendiri yang rugi.

Akhir kata(?), berhati-hatilah saat Anda berada di dunia cyber karena Anda sendirilah yang bisa melindungi diri Anda sendiri. Kerugianpun Anda tanggung sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan orang lain atas konsekuensi yang muncul bebarengan dengan apa yang Anda lakukan.

Be smart, careful and
Sumber

*Beberapa part di postingan ini terinspirasi dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar