Yeah !!! review 5 pun kelaar.. setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan *apasih
Review kali ini ngebahas Marxisme, yang mana aku kurang paham apa intinya :( maka dari itu aku nyari bahan bacaan lain biar bisa ngebantu buat review. Okesipp....
HI 2012
REVIEW 5
MARXISM
Pada
pertengahan tahun 1840, Marx dan Engels menulis bahwa globalisasi kapitalis
benar-benar meruntuhkan pondasi dari sistem internasional negara-negara. Akan
tetapi banyak teoritis tradisional dari hubungan internasional menunjuk pada
kegagalan dari Marxisme sebagai catatan dari sejarah dunia. Marxisme meremehkan
pentingnya nasionalisme, negara dan perang, dan arti penting keseimbangan
kekuasaan, hukum internasional dan diplomasi untuk struktur politik dunia.
Keruntuhan Uni Soviet dan menangnya kapitalisme diatas sosialisme menandai
matinya Marxisme sebagai teori sosial dan kebiasaan politik. Sebuah biografi
dari Marx yang muncul pada akhir tahun 1990 berpendapat bahwa mengikuti
runtuhnya Uni Soviet, analisisnya tentang bagaimana kapitalisme meruntuhkan
Tembok Cina dan menyatukan umat manusia akhirnya tiba.
Marxisme
melihat kemenangan kapitalisme tidak akan bertahan lama dan hukumnya yang tidak
dapat ditawar-tawar akan mengarah menuju kehancurannya dan akan diganti oleh
Komunisme.Kaum Marxisme yang lain seperti Lenin berpendapat berbeda. Lenin
percaya bahwa kapitalisme menyebabkan perpecahan nasional seperti belum pernah
terjadi sebelumnya kemajuan di globalisasi, tapi itu bukan berarti Marxisme
menyediakan penjelasan terbaik tentang bagaimana globalisasi dan perpecahan telah
dibentangkan di saat modern dan khususnya sejak runtuhnya Uni Soviet. Marxisme menganalisa
globalisasi kapitalis dan perpecahan meminta Waltz dan Wight untuk
mempertimbangkan kembali pendapat mereka bahwa Marxisme mungkin tidak dihormati
sebagai kontribusi untuk studi politik internasional atau pendekatan yang
kurang cerdas di lapangan.
Kekuatan
masyarakat diatas alam membuat manusia menjadi terkurung didalam bagian buruh
sosial internasional, mengarahkan ke paksaan pasar dan eksploitasi oleh kondisi
baru dari produksi perusahaan yang merubah pekerja menjadi bagian dari mesin.
Marx percaya bahwa nasionalisme tidak mempunyai tempat di hati dan pikiran dari
kebanyakan kaum murba yang diperlakukan
untuk proyek politik internasional. Marx juga percaya bahwa sejarah paksaan
produksi dan hubungan dari produksi telah diabaikan oleh pergerakan Hegelian.
Marx juga kepercayaan agama bukanlah kesalahan para cendekiawan yang harus di
benarkan oleh analisa filosofis tapi sebuah ekspresi dari rasa frustasi dan
aspirasi orang-orang yang berjuang dengan kondisi sehari-hari.
Masyarakat
proletar atau masyarakat buruh yang selalu ditindas oleh kaum burjois yang mana
mereka adalah masyarakat pemilik modal yang berhak mendapatkan kekuasaan. Dari
pandangannya tentang kemasyarakatan, Marx melahirkan apa yang dimaksud dengan
teori kelas. Dengan teori ini, Marx melihat bahwa kelas-kelas pengusaha harus
dihilangkan karena selalu menindas kaum buruh. Maka dari itu, tidak ada cara
lain untuk merebut kekuasaan kecuali dengan revolusi dimana semua kepemilikan
harus dikembalikan ke negara. Pemikiran inilah yang akhirnya menyebabkan
revolusi Bolsyewik (1917) di Uni Soviet dan Cina (1949). Pemikiran Marx akan
teori kelas membagi dunia menjadi dua paham yaitu teori kelas Marx dan
kapitalis. Kapitalis yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Marxisme yang
diwakili oleh Uni Soviet membuat dua negara ini berperang dingin dalam hal
ideologi sejak Perang Dunia II sampai tahun 1989, yakni tahun kebangkitan
negara-negara Marxis Eropa Timur.
Revolusi
politik merupakan agen utama dari sejarah perkembangan yang mana inovasi
teknologi telah menjadi pendorong kekuatan dibelakang perubahan sosial. Fakta
bahwa Marx berpikir bahwa sosialisme akan mengglobal melebihi fenomena
orang-orang Eropa patut dikomentari lebih lanjut. Ada satu alasan mengapa Marx
mempunyai sesuatu untuk dikatakan mengenai hubungan antara negara-negara, tapi
fokus pada globalisasi kapitalis untuk berjuang menyadari persamaan hak dan
kebebasan. Marx dan Engels tahu pentingnya geopolitik di sejarah manusia,
meskipun mereka percaya bahwa motivasi ekonomi adlaah alasan utama untuk
perkembangan perdagangan dunia dan pasar global.
Austro-Marxis
seperti Karl Renner dan Otto Bauer berpendapat bahwa Marx dan Engels meremehkan
dampak dari perbedaan budaya dalam sejarah manusia. Austro-Marxis bereaksi ke
kekuatan kembar dari globalisasi dan perpecahan dimana manusia akan menikmati
solidaritas dan perbedaan budaya. Hal ini bertubrukan dengan ide sosialis yang
dikembangkan di Soviet dibawah Lenin dan Stalin tapi mereka mengindikasi satu
cara membangun peninggalan Marxis dan
pembangunan kembali sejarah materialisme.
Teori-teori
imperialisme membagikan paham Marx bahwa kapitalisme merupakan kekuatan yang
terus mau karena akan membawa perkembagan
insustri dan dasar dari kebutuhan materiil semua orang. Fakta bahwa Marxisme merupakan doktrin barat
dengan akarnya yang berada di Eropa merupakan poin penting disini. Banyak
pemerintah non barat dan pergerakan non barat menolak model barat dalam ekonomi
dan perkembangan politik dan banyak menentang apa yang mereka lihat sebagai
orang asing dan kemerosotan nilai-nilai barat.
Meskipun
mempunyai kelemahan, Marxisme berkontribusi dalam teori hubungan internasional
paling tidak empat aspek. Yang pertama, sejarah materialisme dengan tekanannya
pada produksi, hubungan milik dan kelas adalah hal yang penting dalam perebutan
kekuasaan dalam politik dunia. Kedua globalisasi kapitalis yang telah lama
dibahas Marxisme. Yang ketiga penyebaran kapitalisme di dunia adalah latar
belakang pembangunan masyarakat modern dan organisasi dari hubungan
internasionalnya. Keempat, penjelasan mengenai dunia sosial tidak pernah
objektif dan tanpa salah seperti terlihat.
Daftar Pustaka
Makalah “Hukum Sebagai Ideologi Kelas (Studi
Analisis atas Pemikiran Marx dan Engels VS Islam)” Oleh : Elan Sumarna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar