“ Ini kan udah lewat dari jam dua, kenapa dia belum keluar juga?” aku melirik jam tanganku, aku sedikit jengah menunggu Blue. Lima menit berselang, si tampan pun keluar juga. Rambutnya agak basah dan wajahnya sedikit pucat. “ Apa dia saki?” hatiku mulai meracau mengkhawatirkan dirinya. Hari ini aku bertekad untuk tahu siapa Blue, dimana rumahnya, semua hal yang ingin kuketahui tentangnya, aku ingin tahu hari ini juga. Segeralah aku perlahan membuntutinya pulang. Sepertinya rumahnya tidak jauh dari sekolah kami, karena dia begitu santai berjalan di terik ini. Aku melihatnya melirik kebelakang. Nampaknya dia merasa sedang diikuti oleh seseorang, aku pun segera berlari dan bersembunyi di balik pohon pisang. Aku mengintip, namun laki-laki itu sudah tidak Nampak jejaknya. Aku segera berlari kecil sambil memanggilnya, “ Blue?? Blue ??!!”
Aku merasa kesal karena usahaku kini sia-sia. Aku kesal dan memutuskan untuk pulang saja. Namun terdengar suara jejak kaki di belakangngku. Aku begitu senang karena aku mengira Blue yang berjalan de belakangku, namun ketika aku berbalik badan, bukan Blue yang ada tapi Vina, adik kelasku yang cukup berprestasi disekolah.
“ Vina??”
“ Mba Lita?? Kok ada disini mba, lagi ngapain??”
“ Enggak kok vin, tadi Cuma iseng lewat aja. Kamu sendiri ngapain disini??”
“ Rumah aku kan deket sini mba, itu rumah aku,” Vina menunjukan rumah berwarna biru di sebelah kananku, “ mampir yuk mba??”
Aku mengiyakan ajakan Vina dan mampir kerumahnya. Rumahnya cukup besar, rapi, bersih, namun terasa begitu sepi . Vina bilang ibunya sudah meninggal dan ayahnya bekerja di rumah sakit dekat sekolah kami.
“ Mba Lita mau minum apa??”
“ Apa aja deh Vin, kalo ada yang dingin ya??”
“ Siap mba!”
Ketika Vina ke dapur untuk mengambilkan aku minuman, aku berjalan dan melihat-lihat seisi rumah Vina. Saat itu aku tidak sengaja melihat hiasan kayu bertulisan R.M di pintu ruangan dekat ruang TV. Aku begitu penasaran dengan apa yang baru kulihat. Aku mendekati ruangan yang sepertinya sebuah kamar. Aku mencoba membuka pintunya, tidak dikunci. Kutengok ke kanan dan kekiri karena aku takut Vina melihatku dan merasa tersinggung. Aku menerobos masuk, ruangan itu gelap dan sedikit pengap. Kunyalakan lampu kamarnya, terlihat cet warna biru langit menghiasi kamar itu. Ku balikkan badanku, “ Ya tuhan, apa itu??” aku tidak pernah menyangka dengan apa yang aku lihat di kamar ini. Di kamar ini terdapat banyak sekali foto-fotoku. Jumlahnya bahkan lebih dari sepuluh, dan terdapat banyak hiasan dinding mungil bertuliskan R.M, “ Apa maksudnya? Kenapa ada banyak sekali fotoku? Kenapa ada banyak tulisan R.M disini? Bukannya R.M itu adalah Raditya Miko alias Miko? Kenapa tulisan R.M ada dirumah Vina? Ini kan bukan rumah Miko, atau jangan-jangan R.M itu adalah Vina, dan Vina itu ternyata penyuka sesame jenis? Ya tuhan, bantu aku untuk tidak mempercayai semua ini.” Rasaku badan ini hampir ambruk, aku sungguh tidak mempercayai dengan kenyataan yang baru saja aku lihat. Vina itu sangat cantik juga pintar, apa mungkin dia menyukaiku? Dan apa mungkin gadis secantik dia penyuka sesame jenis?
“ Mba Lita?? Ngapain disitu?” Jantungku hampir copot ketika Vina datang secara tiba-tiba. Aku merasa kesal dan sedikit takut pada gadis ini. Kalau memang benar dia penyuka sesame jenis? Apa yang akan dia lakukan padaku dirumah ini? Dan apakah dia akan marah dan mengamuk padaku karena aku masuk ke kamarnya tanpa permisi? Gadis itu hendak memulai langkahnya kearahku.
“ Vin, stop Vin! Kamu jangan coba-coba mendekat!”
“ Mba Lita kenapa sih mba ?”
“ Sekarang kamu harus ngaku semuanya Vin! Apa bener R.M itu kamu? Sebenarnya apa maksud kamu menulis sutar-surat dan kado misterius kepadaku? Dan kenapa yang datang pas kita janjian bukannya kamu tapi Miko?”
“ Ini gag seperti yang mba Lita bayangin mba.”
“ Lalu apa! Bukti udah jelas ada didepan mataku, jadi lebih baik kamu segera mengaku Vin!”
Vina meninggalkanku dengan wajah penuh keraguan, aku mengintip kea rah mana gadis itu pergi, dan dia masuk ke sebuah kamar. Vina keluar dengan membawa laptop berwarna biru, kemudian meletakkannya di meja tamu. Aku sendiri bingung dengan apa yang dijajal gadis ini untuk membela diri.
“ Mba Lita kesini deh mba, ada sesuatu yang ingin aku tunjukin ke mba Lita.”
“ Enggak mau! Kamu gak usah macam-macam Vin, aku gak akan mau nurutin apa mau kamu!”
“ Kalo mba Lita gak mau kesini, mba Lita gak akan tahu siapa itu R.M”
“ Apa maksud perkataanmu? Bukankah R.M itu adalah kamu?”
“ Yasudah kalo tetap gak mau kesini, mba Lita bakalan nyesel sendiri entar!” Vina cuek saja, dan sikap cueknya itu membuatku semakin penasaran. Sebenarnya, apa yang ingin gadis itu tunjukan kepadaku? Spontan kakiku melangkah mendekatinya. Kulihat gadis itu mulai mengotak-atik laptopnya dan membuka file video bernama Rizqi Maulana.
“ Rizqi Maulana?” Vina membuatku semakin bingung.
“ Iya, mba Lita lihat dulu, baru setelah itu komentar, okay?”
Video itu mulai diputar, “ Hai, mba Lita ! Aku adik dari cowo cakep yang namanya Rizqi Maulana. Ayo kita lihat kak Rizqi lagi ngapain ya di dalam?” video amatir itu dibuka dengan wajah Vina yang hendak masuk ke rumahnya, di dalam rumah, kemudian Vina masuk ke sebuah kamar dan terlihat dengan jelas ada seoranglaki-laki seumuranku sedang duduk manis menghadap ke meja belajarnya. Vina mengendap-ngendap dan berusaha mengambil close-up dari wajah lelaki itu. “ Blue ?” Aku bertanya pada diriku sendiri dalam hati, aku ingin memastikan apakah laki-laki di video itu adalah Blue? Dan semuanya terjawab ketika Vina berhasil mengambil close-up wajah laki-laki itu.
“ Vin, kamu apa-apaan sih?”
“ Cuma iseng aja mas, mas Rizqi lagi ngapain sih?”
“ Bukan urusan kamu anak kecil!”
“ Enak aja bilang aku anak kecil, itu surat buat mba lita kan mas?”
“ Kalo udah tau ngapain nanya-nanya?”
“ Biar mba Lita tahu mas, siapa tau mas Rizqi gak bisa ketemu mba Lita, atau gak berani nemuain mba Lita, jadi entar aku kirimin aja video ini, mas Rizqi kan payah.”
“ Enak aja kamu Vin, ini buktinya mas bikin surat, biar Lita tahu isi hati mas.”
“ Dasar payah, beraninya lewat surat aja. Coba mas Rizqi bilang sama mba Lita kalo mas Rizqi suka ke mba Lita.”
“ Kan Litanya gak ada disini Vin,”
“ Anggep aja handycame ini mba Lita!”
“ okay.. okay…” Tak bisa kubendung lagi, akhirnya air mataku pun mulai mengalir dipipiku, “ Hai Lit, apa kamu masih inget sama aku? Kita pernah ketemu di kedai bunga. Saat itu kamu meminta mawar yang kubeli untuk Vina, dan aku malah memberimu mawar putih. Sejak hari itu, aku sering sekali memikirkanmu. Aku mulai sadar kalau aku memiliki perasaan yang besar padamu. Perasaan yang ingin memiliki juga tak ingin kehilangan. Setelah aku bercerita kepada Vina, aku tahu bahwa kita satu sekolah. Mungkin kamu gak pernah lihat aku disekolah, karena aku baru saja pindah dari bandung dan baru akan berseragam ‘perjaka’ setelah liburan ini usai. Aku sangat senang, dan berharap bisa melihatmu tersenyum setiap harinya. Aku akan membuatmu menyukaiku dengan surat dan kado ini.” Blue menunjukan kado dan surat yang sama seperti yang kupunya dirumah. “ Aku ingin kamu tahu Lit, aku jatuh cinta padamu, sejak pertama kita bertemu. Aku sayang kamu, Verlita Ananda Rahayu.”
Hatiku tak karuan, aku tidak tah harus senang atau sedih mengetahui kenyataan ini. Disatu sisi aku senang karena semua hal yang kuinginkan telah menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa cintaku kepada Blue tidak bertepuk sebelah tangan, dan kenyataan jika Blue adalah R.M adalah benar. Tapi kenapa hal ini terungkap ketika aku sudah jadian dengan Miko? Kenapa semua ini terungkap ketika aku sudah berhasil dibodohi oleh Miko bahwa R.M adalah Miko.
“ Maafin aku ya Vin, udah negativ thinking ke kamu.”
“ Iya mba, gak apa-apa kok. Yang penting sekarang mba Lita udah tau R.M itu adalah mas Rizqi.”
“ Sekarang Rizqi ada dimana Vin? Mba pengen banget ketemu sama dia.”
“ Mas Rizqi mba ?”
“ Iya Vin, Rizqi dimana? Mba mohon ajak mba ketemu dia.”
“ Tapi??”
“ Tapi kenapa Vin?”
“ Yaudah, mba tunggu dulu ya, aku ganti baju dulu, ntar aku ajak ketemu mas Rizqi.”
*Love at the first sight*
Tak satupun pandangan yang mampu kulihat, mata ini tertutup oleh sebuah kain yang diberikan oleh Vina. Aku tahu, gadis ini ingin memberikan surprise padaku. Aku berjalan perlahan dibantu Vina. Kerikil -kerikil yang berserakan tersandung dan membuatku hampir terjatuh. Aku rasa aku telah berjalan dengan mata tertutup selama lima menit. Kapan sampainya? Sepertinya jejak kami melangkah ke tempat yang sepi. Apakah Rizqi telah menyiapkan surprise untukku? Kira-kira apa ya? Hati ini tak henti-hentinya membayangkan hal indah yang mungkin akan terjadi. Tiba-tiba Vina menghentikan langkahnya, dia menahanku yang hampir terjandung gundukan tanah.
“ Udah sampai Vin? Rizqi mana?” Tanpa menjawab pertanyaanku, aku merasa Vina mulai menyentuh kepalaku dan membuka kain yang menutupi indra penglihatku. Aku sudah tidak sabar untuk melihat Rizqi, aku sudah tidak sabar melihat senyumnya. Perlahan aku membuka mataku. Sedikit demi sedikit penglihatanku semakin jelas.
“ Lho, Rizqi mana Vin? Kok kita ada di makam sih?” Aku semakin bingung karena Vina membawaku ke pemakaman umun, bukannya menemui Rizqi. Aku melihat wajah Vina yang memucat. Vina kemudian menunjukan sebuah makam bertuliskan, “ Rizqi Maulana.”
Aku mulai menyadari badanku mulai gemetaran dan mataku mulai merespon dan menjebolkan cairannya. Kaki ini mendadak lemas dan tak mampu menopang kekuatan di ragaku. Aku terjatuh dan berlutut di gundukan tanah itu. Aku tak mampu mengerti bagaimana aku harus mempercayai apa yang baru saja kulihat. Aku tidak ingin mempercayainya, aku sungguh tidak ingin mempercayainya.
“ Ini makam mas Rizqi mba. Mas Rizqi mengalami kecelakaan tepat di hari ketika mas Rizqi akan menemui mba Lita di taman kota.” Tak satupun kata yang mampu terucap dari bibir ini. Bagaimana mungkin, seseorang yang baru saja ingin kutemui, orang yang benar-benar ku harapkan kehadirannya, tiba-tiba saja pergi untuk selamanya? Lalu siapa yang ku lihat selama ini bila memang Rizqi sudah meninggal ? aku tidak ingin mempercayai semua ini.
“ Rizqi maafkan aku, maafkan karena aku terlambat mengerti semua ini, maafkan karena aku baru tahu kalau R.M itu kamu. Kenapa kamu pergi secepat ini?” Pipiku semakin basah oleh air mata yang terus mengalir tiada hentinya.
“ Mba Lita yang sabar mba, aku juga gak mau kehilangan mas Rizqi secepat ini. Tapi tuhan sudah mengtakdirkan demikian, kita hanya bisa berdoa supaya mas Rizqi bahagia disisi Tuhan.”
Vina membantuku untuk bangun dan menuntunku untuk meninggalkan makam itu. Tapi Rizqi muncul disebrang sana. Dan membuat batinku semakin tak karuan. Rasanya ingin sekali aku berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Tapi dia sudah bahagia, dan aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya.
*Love at the first sight*
*to be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar