Semoga anda senang :)
Siang
itu terasa dingin. Gerimis perlahan membasahi loteng sekolah. Aku merasa sangat
merasa jeuh siang itu. Saat itu adalah jam pelajaran terakhir sejarah. Pak guru
menerangkan tentang sejarah Indonesia yang sulit aku mengerti. Membuatku
semakin jenuh, sampai aku melihat Blue lewat didepan kelas. Laki-laki
itu selalu membuatku begitu penasaran. Laki-laki itu datang dan
pergi secara tiba-tiba, tanpa pernah aku duga. Dia begitu ramah, dan selalu
membuat hatiku terasa sejuk. Di setiap tatapan matanya, tersirat sebuah
kebahagiaan dan cinta. Dan sepertinya aku telah terpesona pada sosok itu.
“ Kamu
lagi ngeliatin apa sih lit?” Bisikan Reni, membuatku kaget. Blue pun menghilang
entah kemana.
“ Dia…!
Itu loh, yang barusan lewat.” Wajah Lita sangat murung dan membuat Reni semakin
penasaran.
“ Dia
siapa? Perasaan dari tadi aku gak lihat siapa-siapa lewat deh.” Sahut Reni.
“ Masa
sih? Apa aku salah liat ya?”
“
Mungkin…? Emangnya kamu lagi ngelamunin siapa sih? Pasti ngelamunin Miko ya?”
Pertanyaan Reni semakin menjadi. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
Sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang Blue kepada Reni, tapi sayangnya
saat ini aku belum siap.
Tiga
puluh menit berselang, bel pulang sekolah berdering kencang. Ketika aku keluar
kelas, didepan sudah ada Miko yang menungguku untuk pulang bersama. Ketika
keluar dan melewati halte sekolah, tak sengaja aku melihat Blue yang
sedang duduk sendiri de dekat kerumunan siswa-siswa SMA N 1 Purwareja Klampok.
Blue terlihat kesal ketika melihatku membonceng Miko. Oh my God! Kenapa tiada
waktu yang tepat untuk mempertemukan aku dengannya?
*Love at the first sight*
Dear
diary..
Tuhan
Maafkan
atas perasaan yang saat ini kurasakan.
Aku
sadar dengan keberadaan Miko disisiku.
Namun
aku tak dapat menepis bayangan Blue dalam ingatanku.
Aku
tidak bisa memusnahkan perasaanku yang begitu bergelora kepada Blue.
Aku
takut menyakiti hati Miko, aku takut mengecewakannya.
Sejujurnya
aku tidak menyayangi Miko, dan kini hatiku telah berselingkuh mengharap yang
lainnya.
Aku
hanya ingin mengenal Blue, dan mencintainya dalam hati saja.
Karena
aku sadar akan ketidakpastian perasaan Blue kepadaku.
Aku
takut Blue tidak memiliki perasaan yang sama kepadaku.
Aku takut
cintaku pada Blue bertepuk sebelah tangan.
Dan
kini aku hanya ingin mencintainya dengan tulus seumur hidupku.
Kututup
buku diary kesayanganku. Diary yang mulai kusut karena terlalu sering terkena
air mataku. Diary yang menjadi saksi perasaan cintaku kepada Blue. Perasaan
yang tak mampu kutepis sampai saat ini. Perasaan pada suatu ketidakpastian.
Aaaaarrrggghhhhhhh!
Aku merasa lelah. Kurebahkan tubuhku pada kasur bercover biru. Aku mulai
merasakan perasaan kantuk menghampiriku. Setiap kali aku mencoba memejamkan
mataku, aku merasa ada seseorang mencium kenigku.
*Love at the first sight*
Aku
berpamitan pada ibuku untuk mencari udara segar ditaman dekat rumah. Dan ketika
aku membuka pintu, aku melihat ada sebuah kotak kecil bersama sebatang mawar
putih.
“ Kalau
kamu masih pengen ketemu aku, temuai aku di taman dekat rumahmu”
By :
R.M
“ R.M ?
Ya ampun Miko! Romantis banget sih dia? Udah pacaran masih sempet bikin
beginian.” Ucapku dalam hati.
Tanpa
basa-basi aku bergegas menuju taman dekat rumahku.
“ Loh,
Miko kemana sih? Kok gak keliatan sih?” Aku mondar-mandir mencari jejak Miko.
Disaat aku belum juga menemukan Miko, aku melihat seorang laki-laki yang dari
jauh mirip dengan Blue. Laki-laki itu duduk disalah satu bangku taman. Aku
mendekatinya, lalu duduk di sebelahnya. Ternyata laki-laki itu memang benar
Blue.
“ Kamu?
Kamu apa kabar?” Blue tidak menengok ketika aku menyapanya. “ Kamu kok gak
jawab pertanyaanku? Kamu masih inget sama aku kan?” Lalu Blue menengok ke
arahku.
“ Ini
buat kamu Lita.” Blue memberikan sebatang mawar putih kepadaku.
“
Makasih yah?”
“ Maaf
Lita, aku harus pergi sekarang.”
“ Kamu
mau kemana?” Blue tidak menjawab pertanyaanku, dia langsung berjalan cepat
meninggalkanku tanpa menengok ke belakang. Aku berusaha mengejarnya, namun aku
tersandung dan kemudian jatuh.
Aaarrrrgggghhhh!
Aku jatuh dari kasurku. Ternyata pertemuanku dengan Blue di taman dekat rumahku
hanyalah sebuah mimpi.
*Love at the first sight*
“
Sayang, entar malem aku telephone kamu ya?” Aku mendegar suara Miko yang
samar-samar di telingaku.
Pikiranku
melayang memikirkan Blue. Aku membayangkan saat-saat aku pertama kali bertemu
dengan laki-laki itu di kedai bunga. Saat pertama kalinya aku menerima mawar
putih dari Blue.
“
sayang!!” jantungku hampir copot mendengar keluhan Miko.
“ iya
?? kenapa??” jawabku singkat.
“ Kamu
dari tadi lagi ngelamunin apa sih? Kamu gak dengerin aku ngomong ya?”
“ Iya
maaf sayang tadi aku ngelamun, soalnya lagi banyak banget fikiran, banyak
banget tugas sekolah.”
“ Ooh,
kirain kamu lagi ngelamunin cowo lain. Awas aja kalo kamu berani khianatin
aku.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Semakin
hari perasaanku kepada Blue semakin dalam. Ingin sekali rasanya mencari tahu
tentang laki-laki itu, namun aku takut menyakiti Miko, aku takut suatu saat aku
menghkhianatinya. Aku tidak ingin Miko tahu bahwa au mencintai orang
lain.
*Love
at the first sight*
Ketika
aku selesai mandi dan menuju ke kamar untuk berhias, aku melihat Reni sedang
membaca sesuatu, diaryku!
“
Reni??!! Ngapain kamu baca-baca buku diaryku? Kamu gak berhak baca buku diary
orang tanpa izin.!” Aku merasa sangat kesal karena sikap Reni yang
menjengkelkan. Aku tidak pernah sekalipun tidak sopan kepadanya, tapi kenapa
dia dengan sangat tidak sopan membaca diaryku tanpa izin?
“ Aku
minta maaf karena udah baca diarymu tanpa izin, aku cuma khawtir sama kamu Lit.
Akhir-akhir ini aku sering banget liat kamu lagi ngelamun. Aku khawatir kamu
punya masalah serius. Maafin aku ya Lit?”aku terdiam sejenak, kemudian
mengangguk. Reni memelukku sebenter, lalu melepaskan pelukannya. “ Kamu kenapa
gak pernah cerita ke aku Lit? Apa kamu udah gak anggep aku sahabatmu lagi?”
Reni terus mendesakku untuk bicara. Aku tak mampu menahan air mata yang sudah
mendesak untuk keluar.
“ Bukan
gitu Ren, kamu tetap sahabat terbaikku. Aku hanya belum siap untuk menceritakan
tentang Blue padamu.”
“
Kenapa gak siap? Pokoknya kamu harus cerita sekarang, kalau kamu masih anggap
aku sahabat terbaikmu.”
Reni
terus mendesakku untuk bercerita. Awalnya aku tidak yakin menceritakan tentang
Blue kepada Reni, tapi aku tidak bisa terus menerus menyembunyikan ini
semua dari Reni.
“ Siang
itu, aku hendak membeli mawar merah di kedai langgananku. Kau tahu kalau aku
sangat suka mawar merah bukan?” Aku memulai bercerita kepada Reni.
“
Lalu?”
“ Saat
aku hendak masuk, aku berpapasan dengan seorang laki-laki memakai baju biru.
Laki-laki itu sangat tampan. Laki-laki itu menyapaku dengan senyuman manisnya,
tapi aku tidak menghiraukan senyumannya, aku berlalu dan melewatinya. Saat aku
menemui penjual bunga dan memintanya untuk memberiku mawar merah seperti
biasanya. Penjual itu berkata kalau mawar merah yang aku suka sudah habis, dan
batang terakhir yang terjual dibeli oleh laki-laki berbaju biru yang baru saja
keluar. Aku kemudian mengejar laki-laki itu dan meminta mawar merah di
tangannya untuk kubeli. Laki-laki itu memintaku menunggunya, lalu dia kembali
masuk ke kedai dan keluar membawa setangkai mawar putih. Aku sempat bingung
kenapa dia memberiku mawar putih dan bukan mawar merah seperti permintaanku.
Dia menjelaskan kalau dia sangat butuh mawar merah untuk hadiah ulang tahun
adiknya yang juga sangat suka mawar merah. Aku bertanya kembali mengapa dia
member mawar putih dan bukan bunga lainnya yang berwarna merah? Laki-laki itu
menjelaskan tentang arti sebuah mawar putih. Mawar melambangkan perasaan cinta
dan kasih sayang, sementara putih melambangkan kesucian. Laki-laki itu bahkan
tahu namaku dari penjual bunga di kedai itu. Lalu laki-laki itu pergi tanpa
mengenalkan siapa namanya padaku. dia bilang kalau suatu saat aku akan tahu
siapa dia dan siapa namanya.”
“ Jadi
kau menyebutnya Blue karena dia memakai baju berwarna bru saat itu? Kapan
kejadiannya Lit?”
“ Awal
liburan semester kita Ren, kira-kira sebulan sebelum aku jadian dengan Miko.
Sejak pertemuanku dengannya, aku merasa begitu penasaran. Aku selalu
terbayang-bayang wajahnya, bahkan sampai terbawa mimpi.”
“ Apa
waktu ketemu sama Blue kamu udah deket sama Miko?”
“ Belum
Ren. Setelah aku ketemu Blue, aku sering sekali mendapat kiriman kado
misterius. Kado itu selalu disertai dengan setangkai bunga mawar putih.
Sebelumnya aku mengira semua kiriman itu Blue yang mengirimnya. Tapi sewaktu
pengirim kado itu meminta ketemuan di taman, justru Miko yang datang, Miko
mengakui pengirim semua itu adalah dia, maka itu aku menerima cinta Miko.”
“ Jadi
selama ini kamu gak pernah sayang sama Miko?”
“
Enggak Ren, aku cuma ngerasa gak enak aja nolak dia. Selama ini aku berusaha
keras agar aku bisa sayang sama Miko, tapi aku tetap tidak memikirkan oranglain
selain Blue.”
“ Ya
ampun, kenapa kamu bisa terjebak di situasi yang rumit kayak gini sih?”
“ Aku
juga enggak tau harus gimana Ren. Aku gak enak kalau ninggalin Miko, tapi aku
juga enggak bisa lupain Blue, apalagi akhir-akhir ini dia sering banget muncul
disekolah dan juga muncul di mimpi aku Ren.”
“ Ya
ampun, kamu sabar yah Lita. Kayak apa sih Blue itu? Setampan apa dia sampai
sahabatku ini sampai susah banget ngelupainnya?”
“
Kapan-kapan kalo aku udah ketemu lagi sama dia aku kenalin deh sama kamu Ren.”
“ Okay,
janji ya?”
*Love at the first sight*
Saat
istirahat sekolah, aku berniat makan bakso di warung Enyak’ bersama Reni. Di
saat Reni sedang masuk dan memesan bakso, aku melihat Blue berjalan melewati
depan kelas agama. Walau dari kejauhan, aku dapat melihat ketampanan laki-laki
itu. Apa dia akan sekolah disini? Aku sempat berfikir ngawar yang membuatku
agak terhibur. Senang sekali rasanya kalau aku dan Blue satu sekolah, tentu aku
bisa dengan leluasa memadangnya, mencintainya dalam hati.
“
Sayang??” Miko muncul secara tiba-tiba dan membuatku kehilangan jejak Blue.
Saat itu Miko menggunakan seragam basket kebanggaannya. Miko adalah kapten team
basket disekolahku. Dia adalah salah satu laki-laki teraktif, terpopuler juga
tertampan disekolahku. Tapi aku yakin, kepopulernya akan sedikit pudar dan
tergeser ketika Blue sudah resmi bersekolah di Smansa Perjaka.
“ Iya,
kenapa? Kok nemuin aku gak bilang dulu sih?” Aku merasa sedikit risih
dengan kedatangan Miko yang tiba-tiba.
“ Loh,
emangnya kamu gak suka aku nemuin kamu?”
“
Bukannya gak suka, tapi kan biasanya kamu sms dulu kalo mau temuin aku.”
“ Kamu sekarang
kenapa sih? Gimana aku mau sms kamu kalau kamu juga sekarang jarang banget
bales sms dari aku? Kamu juga gak pernah mau angkat telephone aku, kamu juga
sekarang susah banget dia jak jalan, makanya aku sengaja temuin kamu tiba-tiba
gini. Emangnya kamu piker aku harus selalu izin kalau mau nemuin
pacarku sendiri?”
Aku
tahu aku salah, aku tidak punya alasan untuk melarang Miko menemuiku secara
tiba-tiba saat disekolah. Aku tidak mampu berkata apa-apa kepada Miko, lalu
kemudian aku membuang muka, mengabaikannya. Miko semakin kesal karena aku
mengabaikannya. Kemudian laki-laki itu pergi wajah penuh emosi.
Reni
yang datang membawa dua mangkuk bakso, langsung duduk disebelahku dan
memberikan bakso pesananku.
“ Lit,
aku tahu kamu itu cinta sama Blue, tapi kamu juga harus fikirkan perasaan Miko.
Gak adil buat Miko dengan perubahan sikapmu yang seperti ini.”
“ Iya,
aku tahu Ren, aku tahu aku udah kelewatan tadi.” Wajah Reni begitu heran
saat menatapku, lalu dia segera menyantap bakso pesanannya yang masih panas.
*Love
at the first sight*
Siang
ini aku merasa galau. Pikiranku melayang berkeliaran entah kemana. Aku tidak
bisa fokus pada pelajaran sastra siang ini. Bukannya mendengarkan bu guru
menerangkan, aku malah membuat beberapa puisi untuk blue.
Langit
Birumu
mencerahkan hariku
Disiangnya
aku merasa terang
Namun
ketika senjamu datang dan kau menghilang
Semuanya
berubak menjadi gelap
Pekat
menyelimutiku dan aku tak bisa melihat keindahan itu lagi
Langitku
yang biru
Bila
kau mengizinkanku untuk meraihmu, menyentuhmu, dan selalu menatapmu
Maka
aku akan bahagia
Karena
aku tak takut gelap menyapaku
Dan
birumu akan senantiasa mencerahkan hariku
Aku
merasa Blue ada di dekatku , dan aku melihatnya lewat di muka kelasku. Kali ini
aku tidak ingin melewatkan kesempatan, aku segera menemui bu guru lalu izin ke
toilet. Saat sudah diluar kelas, aku berlari cepat mencari Blue. Namun
laki-laki itu tidak kutemukan jejaknya. Akhirnya kuputuskan untuk mencarinya
sepulang sekolah nanti.
*Love at the first sight*
Part 2 akan ada setelah posting ini :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar