Minggu, 12 Agustus 2012

Love At The First Sight Part 1

Cerpen ini ditulis oleh temenku  Maria Marisca Sutikno
Semoga anda senang :)


Siang itu terasa dingin. Gerimis perlahan membasahi loteng sekolah. Aku merasa sangat merasa jeuh siang itu. Saat itu adalah jam pelajaran terakhir sejarah. Pak guru menerangkan tentang sejarah Indonesia yang sulit aku mengerti. Membuatku semakin jenuh, sampai aku melihat Blue lewat didepan kelas.  Laki-laki itu  selalu membuatku begitu penasaran. Laki-laki  itu datang dan pergi secara tiba-tiba, tanpa pernah aku duga. Dia begitu ramah, dan selalu membuat hatiku terasa  sejuk. Di setiap tatapan matanya, tersirat sebuah kebahagiaan dan cinta. Dan sepertinya aku telah terpesona pada sosok itu.
“ Kamu lagi ngeliatin apa sih lit?” Bisikan Reni, membuatku kaget. Blue pun menghilang entah kemana.
“ Dia…! Itu loh, yang barusan lewat.” Wajah Lita sangat murung dan membuat Reni semakin penasaran.
“ Dia siapa? Perasaan dari tadi aku gak lihat siapa-siapa lewat deh.” Sahut Reni.
“ Masa sih? Apa aku salah liat  ya?”
“  Mungkin…? Emangnya kamu lagi ngelamunin siapa sih? Pasti ngelamunin Miko ya?” Pertanyaan Reni semakin menjadi. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Sebenarnya aku ingin sekali bercerita tentang Blue kepada Reni, tapi sayangnya saat ini aku belum siap.
Tiga puluh menit berselang, bel pulang sekolah berdering kencang. Ketika aku keluar kelas, didepan sudah ada Miko yang menungguku untuk pulang bersama. Ketika keluar  dan melewati halte sekolah, tak sengaja aku melihat Blue yang sedang duduk sendiri de dekat kerumunan siswa-siswa SMA N 1 Purwareja Klampok. Blue terlihat kesal ketika melihatku membonceng Miko. Oh my God! Kenapa tiada waktu yang tepat untuk mempertemukan aku dengannya?
                                      *Love at the first sight*



Dear diary..
Tuhan
Maafkan atas perasaan yang saat ini kurasakan.
Aku sadar dengan keberadaan Miko disisiku.
Namun aku tak dapat menepis bayangan Blue dalam ingatanku.
Aku tidak bisa memusnahkan perasaanku yang begitu bergelora kepada Blue.
Aku takut menyakiti hati Miko, aku takut mengecewakannya.
Sejujurnya aku tidak menyayangi Miko, dan kini hatiku telah berselingkuh mengharap yang lainnya.
Aku hanya ingin mengenal Blue, dan mencintainya dalam hati saja.
Karena aku sadar akan ketidakpastian perasaan Blue kepadaku.
Aku takut Blue tidak memiliki perasaan yang sama kepadaku.
Aku takut cintaku pada Blue bertepuk sebelah tangan.
Dan kini aku hanya ingin mencintainya dengan tulus seumur  hidupku.

Kututup buku diary kesayanganku. Diary yang mulai kusut karena terlalu sering terkena air mataku. Diary yang menjadi saksi perasaan cintaku kepada Blue. Perasaan yang tak mampu kutepis sampai saat ini. Perasaan pada suatu ketidakpastian.
Aaaaarrrggghhhhhhh! Aku merasa lelah. Kurebahkan tubuhku pada kasur bercover biru. Aku mulai merasakan perasaan kantuk menghampiriku. Setiap kali aku mencoba memejamkan mataku, aku merasa ada seseorang mencium kenigku.
                                      *Love at the first sight*

Aku berpamitan pada ibuku untuk mencari udara segar ditaman dekat rumah. Dan ketika aku membuka pintu, aku melihat ada sebuah kotak kecil bersama sebatang mawar putih.
“ Kalau kamu masih pengen ketemu aku, temuai aku di taman dekat rumahmu”
By : R.M

“ R.M ? Ya ampun Miko! Romantis banget sih dia? Udah pacaran masih sempet bikin beginian.” Ucapku dalam hati.
Tanpa basa-basi aku bergegas menuju taman dekat rumahku.
“ Loh, Miko kemana sih? Kok gak keliatan sih?” Aku mondar-mandir mencari jejak Miko. Disaat aku belum juga menemukan Miko, aku melihat seorang laki-laki yang dari jauh mirip dengan Blue. Laki-laki itu duduk disalah satu bangku taman. Aku mendekatinya, lalu duduk di sebelahnya. Ternyata laki-laki itu memang benar Blue.
“ Kamu? Kamu apa kabar?” Blue tidak menengok ketika aku menyapanya. “ Kamu kok gak jawab pertanyaanku? Kamu masih inget sama aku kan?” Lalu Blue menengok ke arahku.
“ Ini buat kamu Lita.” Blue memberikan sebatang mawar putih kepadaku.
“ Makasih yah?”
“ Maaf Lita, aku harus pergi sekarang.”
“ Kamu mau kemana?” Blue tidak menjawab pertanyaanku, dia langsung berjalan cepat meninggalkanku tanpa menengok ke belakang. Aku berusaha mengejarnya, namun aku tersandung dan kemudian jatuh.
Aaarrrrgggghhhh! Aku jatuh dari kasurku. Ternyata pertemuanku dengan Blue di taman dekat rumahku hanyalah sebuah mimpi.
                                      *Love at the first sight*

“ Sayang, entar malem aku telephone kamu ya?” Aku mendegar suara Miko yang samar-samar di telingaku.
Pikiranku melayang memikirkan Blue. Aku membayangkan saat-saat aku pertama kali bertemu dengan laki-laki itu di kedai bunga. Saat pertama kalinya aku menerima mawar putih dari Blue.
“ sayang!!” jantungku hampir copot mendengar keluhan Miko.
“ iya ?? kenapa??” jawabku singkat.
“ Kamu dari tadi lagi ngelamunin apa sih? Kamu gak dengerin aku ngomong ya?”
“ Iya maaf sayang tadi aku ngelamun, soalnya lagi banyak banget fikiran, banyak banget tugas sekolah.”
“ Ooh, kirain kamu lagi ngelamunin cowo lain. Awas aja kalo kamu berani khianatin aku.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Semakin hari perasaanku kepada Blue semakin dalam. Ingin sekali rasanya mencari tahu tentang laki-laki itu, namun aku takut menyakiti Miko, aku takut suatu saat aku menghkhianatinya.  Aku tidak ingin Miko tahu bahwa au mencintai orang lain.
                                      *Love at the first sight*

Ketika aku selesai mandi dan menuju ke kamar untuk berhias, aku melihat Reni sedang membaca sesuatu, diaryku!
“ Reni??!! Ngapain kamu baca-baca buku diaryku? Kamu gak berhak baca buku diary orang tanpa izin.!” Aku merasa sangat kesal karena sikap Reni yang menjengkelkan. Aku tidak pernah sekalipun tidak sopan kepadanya, tapi kenapa dia dengan sangat tidak sopan membaca diaryku tanpa izin?
“ Aku minta maaf karena udah baca diarymu tanpa izin, aku cuma khawtir sama kamu Lit. Akhir-akhir ini aku sering banget liat kamu lagi ngelamun. Aku khawatir kamu punya masalah serius. Maafin aku ya Lit?”aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Reni memelukku sebenter, lalu melepaskan pelukannya. “ Kamu kenapa gak pernah cerita ke aku Lit? Apa kamu udah gak anggep aku sahabatmu lagi?” Reni terus mendesakku untuk bicara. Aku tak mampu menahan air mata yang sudah mendesak untuk keluar.
“ Bukan gitu Ren, kamu tetap sahabat terbaikku. Aku hanya belum siap untuk menceritakan tentang Blue padamu.”
“ Kenapa gak siap? Pokoknya kamu harus cerita sekarang, kalau kamu masih anggap aku sahabat terbaikmu.”
Reni terus mendesakku untuk bercerita. Awalnya aku tidak yakin menceritakan tentang Blue kepada Reni, tapi  aku tidak bisa terus menerus menyembunyikan ini semua dari Reni.
“ Siang itu, aku hendak membeli mawar merah di kedai langgananku. Kau tahu kalau aku sangat suka mawar merah bukan?” Aku memulai bercerita kepada Reni.
“ Lalu?”
“ Saat aku hendak masuk, aku berpapasan dengan seorang laki-laki memakai baju biru. Laki-laki itu sangat tampan. Laki-laki itu menyapaku dengan senyuman manisnya, tapi aku tidak menghiraukan senyumannya, aku berlalu dan melewatinya. Saat aku menemui penjual bunga dan memintanya untuk memberiku mawar merah seperti biasanya. Penjual itu berkata kalau mawar merah yang aku suka sudah habis, dan batang terakhir yang terjual dibeli oleh laki-laki berbaju biru yang baru saja keluar. Aku kemudian mengejar laki-laki itu dan meminta mawar merah di tangannya untuk kubeli. Laki-laki itu memintaku menunggunya, lalu dia kembali masuk ke kedai dan keluar membawa setangkai mawar putih. Aku sempat bingung kenapa dia memberiku mawar putih dan bukan mawar merah seperti permintaanku. Dia menjelaskan kalau dia sangat butuh mawar merah untuk hadiah ulang tahun adiknya yang juga sangat suka mawar merah. Aku bertanya kembali mengapa dia member mawar putih dan bukan bunga lainnya yang berwarna merah? Laki-laki itu menjelaskan tentang arti sebuah mawar putih. Mawar melambangkan perasaan cinta dan kasih sayang, sementara putih melambangkan kesucian. Laki-laki itu bahkan tahu namaku dari penjual bunga di kedai itu. Lalu laki-laki itu pergi tanpa mengenalkan siapa namanya padaku. dia bilang kalau suatu saat aku akan tahu siapa dia dan siapa namanya.”
“ Jadi kau menyebutnya Blue karena dia memakai baju berwarna bru saat itu? Kapan kejadiannya Lit?”
“ Awal liburan semester kita Ren, kira-kira sebulan sebelum aku jadian dengan Miko. Sejak pertemuanku dengannya, aku merasa begitu penasaran. Aku selalu terbayang-bayang wajahnya, bahkan sampai terbawa mimpi.”
“ Apa waktu ketemu sama Blue kamu udah deket sama Miko?”
“ Belum Ren. Setelah aku ketemu Blue, aku sering sekali  mendapat kiriman kado misterius. Kado itu selalu disertai dengan setangkai bunga mawar putih. Sebelumnya aku mengira semua kiriman itu Blue yang mengirimnya. Tapi sewaktu pengirim kado itu meminta ketemuan di taman, justru Miko yang datang, Miko mengakui pengirim semua itu adalah dia, maka itu aku menerima cinta Miko.”
“ Jadi selama ini kamu gak pernah sayang sama Miko?”
“ Enggak Ren, aku cuma ngerasa gak enak aja nolak dia. Selama ini aku berusaha keras agar aku bisa sayang sama Miko, tapi aku tetap tidak memikirkan oranglain selain Blue.” 
“ Ya ampun, kenapa kamu bisa terjebak di situasi yang rumit kayak gini sih?”
“ Aku juga enggak tau harus gimana Ren. Aku gak enak kalau ninggalin Miko, tapi aku juga enggak bisa lupain Blue, apalagi akhir-akhir ini dia sering banget muncul disekolah dan juga muncul di mimpi aku Ren.”
“ Ya ampun, kamu sabar yah Lita. Kayak apa sih Blue itu? Setampan apa dia sampai sahabatku ini sampai susah banget ngelupainnya?”
“ Kapan-kapan kalo aku udah ketemu lagi sama dia aku kenalin deh sama kamu Ren.”
“ Okay, janji ya?”
                                      *Love at the first sight*

Saat istirahat sekolah, aku berniat makan bakso di warung Enyak’ bersama Reni. Di saat Reni sedang masuk dan memesan bakso, aku melihat Blue berjalan melewati depan kelas agama. Walau dari kejauhan, aku dapat melihat ketampanan laki-laki itu. Apa dia akan sekolah disini? Aku sempat berfikir ngawar yang membuatku agak terhibur. Senang sekali rasanya kalau aku dan Blue satu sekolah, tentu aku bisa dengan leluasa memadangnya, mencintainya dalam hati.
“ Sayang??” Miko muncul secara tiba-tiba dan membuatku kehilangan jejak Blue. Saat itu Miko menggunakan seragam basket kebanggaannya. Miko adalah kapten team basket disekolahku. Dia adalah salah satu laki-laki teraktif, terpopuler juga tertampan disekolahku. Tapi aku yakin, kepopulernya akan sedikit pudar dan tergeser ketika Blue sudah resmi bersekolah di Smansa Perjaka.
“ Iya, kenapa? Kok nemuin aku gak bilang dulu sih?”  Aku merasa sedikit risih dengan kedatangan Miko yang tiba-tiba.
“ Loh, emangnya kamu gak suka aku nemuin kamu?”
“ Bukannya gak suka, tapi kan biasanya kamu sms dulu kalo mau temuin aku.”
“ Kamu sekarang kenapa sih? Gimana aku mau sms kamu kalau kamu juga sekarang jarang banget bales sms dari aku? Kamu juga gak pernah mau angkat telephone aku, kamu juga sekarang susah banget dia jak jalan, makanya aku sengaja temuin kamu tiba-tiba gini. Emangnya kamu piker  aku  harus selalu izin kalau mau nemuin pacarku sendiri?”
Aku tahu aku salah, aku tidak punya alasan untuk melarang Miko menemuiku secara tiba-tiba saat disekolah. Aku tidak mampu berkata apa-apa kepada Miko, lalu kemudian aku membuang muka, mengabaikannya. Miko semakin kesal karena aku mengabaikannya. Kemudian laki-laki itu pergi wajah penuh emosi.
Reni yang datang membawa dua mangkuk bakso, langsung duduk disebelahku dan memberikan bakso pesananku.
“ Lit, aku tahu kamu itu cinta sama Blue, tapi kamu juga harus fikirkan perasaan Miko. Gak adil buat Miko dengan perubahan sikapmu yang seperti ini.”
“ Iya, aku tahu Ren, aku tahu aku udah kelewatan tadi.”  Wajah Reni begitu heran saat menatapku, lalu dia segera menyantap bakso pesanannya yang masih panas.
                                      *Love at the first sight*


Siang ini aku merasa galau. Pikiranku melayang berkeliaran entah kemana. Aku tidak bisa fokus pada pelajaran sastra siang ini. Bukannya mendengarkan bu guru menerangkan, aku malah membuat beberapa puisi untuk blue.

                     Langit
Birumu mencerahkan hariku
Disiangnya aku merasa terang
Namun ketika senjamu datang dan kau menghilang
Semuanya berubak menjadi gelap
Pekat menyelimutiku dan aku tak bisa melihat keindahan itu lagi
Langitku yang biru
Bila kau mengizinkanku untuk meraihmu, menyentuhmu, dan selalu menatapmu
Maka aku akan bahagia
Karena aku tak takut gelap menyapaku
Dan birumu akan senantiasa mencerahkan hariku

Aku merasa Blue ada di dekatku , dan aku melihatnya lewat di muka kelasku. Kali ini aku tidak ingin melewatkan kesempatan, aku segera menemui bu guru lalu izin ke toilet. Saat sudah diluar kelas, aku berlari cepat mencari Blue. Namun laki-laki itu tidak kutemukan jejaknya. Akhirnya kuputuskan untuk mencarinya sepulang sekolah nanti.
                                      *Love at the first sight*

Part 2 akan ada setelah posting ini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar