Selasa, 12 Maret 2013

Tugas Review

Posting ini dapet inspirasi dari postingan di blog temenku "Riani Charlina" (makasih ca :D).
Tugas review ini dari dosen mata kuliah PIHI (Pengantar Ilmu Hubungan Internasional), mata kuliah  wajib di semester 2. Awalnya aku kira gampang, karena cuma baca dan nulis kembali apa yang udah dibaca ditambah pendapat sendiri. Tapi waktu dapet bahan bacaannyaa, bumi gonjang-ganjing, laut meluap, petir menggelegar *abaikan* karena ada kurang lebih 16 halaman dan itu bahasa Inggris full dan dari University of Cambridge, untung bukan dari Oxford :O. Diatas bacaanya si tulisannya gini :

Devtak, Richard. 2008. "An Introduction to International Relations" dalam Richard Devtak & Anthony Burke, dkk (eds) . An Introductin to International Relations : Australian Perspective . New York . Cambridge University Press.
Nah tuh kan...ada beberapa kalimat yang aku nggak paham sebenarnya, kayak "this common sense understanding of International relations only stratches the surface of all that the discipline of International Relations cover".
16 halaman yang tadinya bersih bersinar *-_-* jadi brubah kayak coret-coretan anak SD baru belajar nulis sama baca.
Total waktu aku ngerjain tugas itu kalo nggak salah sekitar 5 hari, cukup melelahkan tapi waktu tau kalo itu udah selesai rasanyaa bebaasss :D hahaha Alhamdulillah...
bisa aktif diblog lagi sama social media. Eh tapi kan per minggu ada 1 review yang harus dikerjain...
Nerima aja deh, udah tugas seorang mahasiswi PT :)
Ada manfaatnya juga, jadi bisa lebih tau kosakata bahasa inggris terutama yang berhubungan sama HI :) *yey*

Ini hasil reviewku :) *if you want to copy paste this review, you have to get my permission :)*

Review
An Introduction to International Relations : The Origins and Changing Agendas of a Discipline
Setiap hari media-media global selalu membawa berita baru, tentang kekerasan politik, kehidupan, dan kehilangan mata pencaharian. Selama 2000 tahun, manusia sudah tidak asing dengan kata “perang” dan konsekuensinya. Jika terjadi perang, maka simpati akan berdatangan dari banyak negara di dunia, berusaha untuk mengurangi atau bahkan membantu terciptanya perdamaian. Sebenarnya apa itu hubungan internasional? Menurut terminologi kata, hubungan internasional berarti hubungan eksternal antara bangsa-bangsa, negara-negara dan manusia-manusia. Di beberapa kasus, hubungan internasional dibedakan dari politik dalam negeri. Ian Clark menyebut ini ‘Great Divide’. Menurut ‘Great Divide’ politik dalam negeri adalah apa yang mengambil tempat di dalam negara sedangkan hubungan internasional adalah apa yang mengambil tempat di luar.
Universitas sebagai pusat penelitian dan pembelajaran telah lama membagi ilmu pengetahuan menjadi beberapa mata pelajaran. Sebuah mata pelajaran terdiri dari fokus khusus. Mata pelajaran tersebut membantu untuk memperbaiki intelektual dengan mempertahankan fokus dan menjaganya dari gangguan. Hubungan internasional tidak begitu saja ditemukan oleh para sarjana-sarjana dan siswa-siswa tapi melewati berbagai pemikiran-pemikiran. Faktanya mereka tidak dengan rapi membedakan hubungan internasional dari politik dalam negeri atau hukum internasional atau moralitas internasional.  Selama tahun-tahun awal mata pelajaran, pola klasifikasi dari idealisme atau liberalisme di satu sisi dan realisme di sisi lain. Pola ini masih mendominasi mata pelajaran di AS sekarang, meskipun direvisi menjadi debat antara neoliberalisme dan neorealisme.
Realisme menganggap bahwa negara ada di kondisi anarki yang memaksa mereka untuk mencari keseimbangan kekuatan untuk memastikan keberlangsungan dan keamanan mereka. Liberalisme memiliki pandangan yang lebih optimis. Jika realisme melihat sejarah sebagai hal yang statis atau siklis, liberalisme melihat itu sebagai sebuah kemajuan. Ditambah lagi dengan aliran marxisme. Marxisme menganalisis tekanan antara kebebasan dunia dan realita konkrit dari ketidaksamaan dan ketidak adilan. Sedangkan Martin Wight membagi tiga pola gagasan yaitu realisme, rasionalisme dan revolusionisme. Sebenarnya pembagian ini tidak diberikan, tapi ditemukan. Pembagian ini bersifat heterogen. Pola pemikiran tidak pernah secara internal koheren atau tertutup ketika mereka muncul.
Asal-usul dari mata pelajaran ini ditemukan di salah satu sejarah dunia yaitu Perang Dunia 1 (1914-1918) yang meninggalkan trauma bagi warga Eropa karena tahun-tahun sebelumnya keadaan relatif damai. Peristiwa ini menimbulkan gerakan anti perang bagi kelompok-kelompok yang menyaksikan perang itu. Mereka berusaha untuk mencari cara untuk meniadakan perang untuk selamanya. Pemikiran ini telah dibahas dalam Liga Bangsa-Bangsa di Geneva pada tahun 1920.
Menurut Reus-Smit, jejak dari asal-usul dari ide itu kembali pada abad ke 18 ke masa revolusi Amerika dan Prancis tapi, dapat disangkal bahwa itu hanya ada pada akibat dari perang besar dimana diplomasi baru dan tata tertib yang sah membentuk perjanjian hukum internasional dan multilateral. Ini adalah konteks umum dari mata pelajaran hubungan international telah dibentuk. Tapi pada perjalanannya banyak perdebatan tentang aliran-aliran tertentu. Seperti antara realisme dan liberalisme atau antara  behaviouralisme dan tradisionalisme. Pertanyaan dasarnya adalah ‘apa jalan yang paling tepat untuk mengejar dan memperoleh pengetahuan dari hubungan internasional?’ Bull (1966) beranggapan bahwa ini adalah debat tentang metode ilmiah versus klasik. Bull berpikir bahwa pendekatan ilmiah telah mengubah siswa-siswa dan sarjana-sarjana terlalu jauh dari hal-hal hubungan internasional. Chris Brown (1997 : 36-7) mungkin benar dengan mengatakan bahwa debat kedua sebagai ‘pertempuran kecil’ daripada debat besar, karena kenyataanya itu adalah sesuatu yang bukan terjadi pada masa itu.
Sejak lahirnya, hubungan internasional selalu berkembang secara terus menerus. Perkembangan terbaru dari konteks teori hubungan internasional disebut dengan ‘debat ketiga’. Liberalisme dan realisme ingin tampak menonjol selama perang dingin. Realisme menganggap perang sebagai bagian yang tidak dapat dihindari dan tidak dapat dimusnahkan dari hubungan internasional selama kondisi anarki berlaku. Liberalisme menerima teori ini, tapi percaya bahwa perubahan mungkin terjadi. Mereka beranggapan bahwa perubahan dari sistem internasional akan sangat membatasi perang. Dan jika dibangun maka akan berubah menjadi tanpa kekerasan, tanpa ketidak adilan, struktur baru dari tata tertib dunia. Realisme dan liberalisme terus berdebat mengenai hubungan negara dengan hukum internasional. Liberalisme cenderung mempercayai bahwa hukum adalah paksaan untuk perdamaian, sedangkan realisme cenderung ragu pada ide bahwa hukum tidak dapat membuat perubahan apapun.
Globalisasi dan penguasaan global telah mempengaruhi banyak penelitian sarjana-sarjana, terutama globalisasi. Badan-badan dunia seperti PBB, WTO, World Bank, IMF adalah termasuk badan-badan dunia yang formal yang mempengaruhi globalisasi. Jika badan-badan dunia menjanjikan kemakmuran dan kedamaian, mungkin saja teroris transnasional akan berhenti menyebarkan kekacauan diberbagai tempat.
Mengenai agenda tradisional dan agenda baru, jika agenda tradisional fokus pada sistem negara, agenda baru mengenali pengaruh kuat dari pelaku global dalam hal ini. Jika agenda tradisional membicarakan isu normatif dengan mengubahnya ke persoalan hukum, agenda baru sering bermain dengan isu normatif dengan mengubahnya ke persoalan hukum. Dapat disangkal bahwa perubahan drastis dan kebangkitan dari agenda baru sudah mengubah dunia hubungan internasional menjadi tempat yang berbeda. Bukan hanya ‘perabotan’ dari dunia yang berbeda, pengetahuan dari pelaku-pelaku, jaringan, struktur dan proses juga berubah. AS berpendapat bahwa perubahan hukum internasional dan hukum perang akan lebih membasmi teroris secara lebih efektif.
Pencegahan atau pemusnahan perang tersisa sebagai hal yang penting sekarang, seperti pada tahun 1919. Tapi karakter dari perang telah berubah pesat sejak itu. Kita harus belajar perbedaannya. Agenda tradisional dan agenda baru ada berdampingan satu sama lain walaupun tidak bisa tanpa tekanan. Tugas dari siswa-siswa hubungan internasional sekarang adalah mempelajari pengertian yang lebih baik bagaimana agenda ini berhubungan.

Belum tau tuh aku dapet nilai berapa, semoga aja A aamiin :)
Sekian dulu...sampai bertemu dipostingan berikutnya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar